Ahli Pertanian : Produksi Turun Bukan Karena Flare

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

Bojonegoro – Menurunnya produksi padi maupun palawija di sekitar Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, bukan karena flaring (pembakaran gas). Hal itu ditegaskan Dwi Prayitno, ahli pertanian dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LESOS) Mojokerto, Jawa Timur.

Menurut Dwi Prayitno, dari hasil penelitian yang dilakukannya selama hampir satu tahun, penyebab turunnya produksi padi di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam disebabkan oleh empat faktor. Yang pertama, musim tanam (Musim kemarau/MK). Dimana antara produksi MK 1, MK2, dan musim penghujan (MP) tidak sama.

“MK 1 hasil produksi pasti bagus. Hasil ini akan berbeda pada MK 2 dan MP,” kata Dwi-panggilan akrab Dwi Paryitno kepada suarabanyuurip.com, Senin (8/8/2016).

Yang ke dua, pemupukan yang tidak berimbang. Hal ini berdasarkan hasil uji laboratorium tanah persawahan di Dusun Ledok, Desa Mojodelik yang berdekatan dengan flare Banyuurip yang dia lakukan  di Fakultas Pertanian Brawijaya pada kisaran Oktober 2015 lalu.

“Dari hasil uji lab itu direkomendasikan untuk menambah pupuk organik. Idealnya, setiap satu hektar untuk kondisi tanah tinggi seperti Mojodelik adalah 4-5 ton. Sedangkan petani selama ini menggunakan pupuk organik kurang dari satu ton setiap hektarnya,” kata lulusan Teknologi Pertanian Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya itu.

Baca Juga :   Soroti Penggunaan Truk Tanki Minyak dari Cirebon

Ke tiga karena factor pengunaan benih oleh petani. Menurut dia, benih yang digunakan bukan benih unggul yang berlabel, melainkan benih turunan dari hasil produksi sebelumnya.

Jika menggunakan benih turunan, kata Dwi, bisa saja benih tersebut adalah jantan yang memiliki sifat restorer (mandul). Artinya pertumbuhan tanaman terlihat bagus, namun tidak berbuah.

“Itu bisa terjadi pada padi maupun palawija seperti jagung. Rata-rata jika benihnya jantan pertumbuhannya di atas rata-rata,” ujar dia mengungkapkan.

Faktor ke empat adalah karena perlakuan petani. “Selama ini petani di sana masih menggunakan cara konvensional,” tandasnya.

Dia menegaskan, dari hasil kajian yang dia lakukan selama ini penurunan produksi padi di Desa Mojodelik bukan disebabkan oleh flaring maupun lampu di sekitar pagar proyek Banyuurip. Karena penurunan produksi selama ini masih tergolong wajar.

Menurut dia, ada beberapa warna sinar lampu yang bisa menyebabkan produksi pertanian maupun palawija menurun. Yakni warna merah karena memiliki infra red yang bisa menyebabkan pertumbuhunan tanaman tinggi mengikuti arah cahaya, tapi tidak berbuah.

Baca Juga :   DBH SDA Tuban Capai Rp62,6 Miliar

Kemudian lampu warna hijau menyebabkan tanaman kerdil, dan lampu warna kuning membuat daun tanaman pucat.   

“Penurunnya 20 persen. Kalau penurunannya sampai 50 persen, itu baru tidak wajar. Jadi penurunan ini bukan karena flare atau lampu,” pungkas Inspektorat LESOS itu.

Sebelumnya petani Mojodelik yang tergabung Aliansi Masyarakat Peduli (AMPE) Panas Flare menyatakan jika produksi pertanian mereka menurun akibat flaring dan lampu sekitar pagar Lapangan Banyuurip. Bahkan mereka menggelar demo meminta operator migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), bertanggung jawab.(suko) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *