SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – warga Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli (Ampe) Panas Flare mengancam melaporkan pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat ke jalur hukum. Gara-garanya eksekutif tak mau menandatangi petisi yang dibawa pendemo.Â
“Jangan ngomong dulu. Tandatangani petisi ini baru bicara,” desak Koordinator Aksi, Mustofa kepada Asisten 1 Djoko Lukito yang menemui pendemo di gerbang Kantor Pemkab Bojonegoro, Kamis (18/8/2016).
Namun Djoko Lukito yang saat itu di dampingi Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agus Supriyanto, tak kunjung menandatangi petisi tersebut. Alasannya, petisi yang dibawa pendemo tentang lingkungan sehingga pihaknya memanggil Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH), Elzadeba.
Tak lama berselang, Kepala BLH datang ke loasi demo. Saat ketiga perwakilan pemkab masih memelajari isi petisi tersebut, pendemo mengambilnya kembali.Â
“Bukannya pemkab tidak mau tandatangan, tadi akan saya tandatangani setelah saya diberi penjelasan oleh Kepala BLH karena tuntutannya terkait dengan masalah lingkungan, namun berkasnya kemudian diminta yang bersangkutan lagi,” ujar Djoko Lukito melalui pesan pendek yang dikirim suarabanyuurip.com usai demo.
Akibat tidak ditandatanganinya petisi tersebut, Mustofa mengancam akan melaporkan Pemkab Bojonegoro ke jalur hukum karena membiarkan dugaan pelanggaran lingkungan terjadi di Lapangan Banyuurip, Blok Cepu.
“Kalau memang ada yang salah dengan petisi yang saya buat ini, Ibu Ketua DPRD saja mau menandatangani. Tapi kenapa pemkab tidak mau tandatangan?” ujar Mustofa.Â
“Jika pemkab memang tidak mau menandatangani, kami akan melaporkan Pemkab ke jalur hukum,” lanjutnya.
Petisi Ampe Panas Flare berisi empat tuntutan. Yakni mendesak operator Migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bertanggungjawab atas panasnya lingkungan di Desa Mojodelik, menurunnya hasil panen, kebisiangan suara mesin yang beroperasi, dan peninjauan ulang analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal).
Demo yang dilaksanakan Ampe Panas Flare ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya mereka melakukan unjuk rasa di di fly over (jembatan layang) Banyuurip.Â
Unjuk rasa kali kedua ini diikuti 800 an warga. Mereka menumpang 20 truk, dan 8 mobil pickup dari Lapangan Desa Mojodelik. Demo ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.
“Kita terjunkan 200 personil untuk pengamanan,” sergah Kapolsek Kota Bojonegoro, Kompol Usman di sela-sela pengamanan.
Karena tuntutannya tidak dipenuhi oleh Pemkab Bojonegoro, akhirnya massa Ampe Panas Flare membubarkan diri.(suko)