Minta Presiden Hentikan Impor Daging

pengusaha daging

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

 Tuban – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2016, salah satu pengusaha Bumi Peternakan Wahyu Utama Desa Sukolilo, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Joko Utomo, meminta Presiden Jokowi untuk tidak mengimpor daging kembali. Analisanya, kebijakan impor tidak berpengaruh terhadap harga daging di daerah. Sekaligus sulit mewujudkan Indonesia swasembada pangan.

“Berapapun daging yang didatangkan dari luar negeri tidak akan mampu mewujudkan swasembada daging Nasional,” kata Joko Utomo, ketika ditemui suarabanyuurip.com, di kandangnya tempatnya sebelum perbatasan Provinsi Jawa Timur- Jawa Tengah, Selasa (23/8/2016).

Langkah strategis untuk mewujudkan swasembada daging yakni mengoptimalkan peran Rumah Pemotongan Hewan (RTH) di setiap kabupaten/kota. Ketika langkah ini belum dilakukan, kebijakan impor daging selamanya hanya menguntungkan para importir/pengusaha catering, perhotelan, ataupun restauran.

Pemerintah harus merubah peran RTH, jika selama ini hanya berfungsi sebagai penyedia jasa pemotongan saja. Kedepan harus disinergikan dengan pasar sapi modern, pemotongan hewan dilengkapi mesin pembeku daging, serta program pembinaan kelompok tani dan ternak lokal.

Baca Juga :   Perceraian Bojonegoro Capai 2.433 Perkara, Masalah Ekonomi Mendominasi

“Sejak dua tahun terakhir program RTH modern sudah saya praktikan,” imbuh Joko.

Hasilnya banyak petani, peternak, bahkan pemodal tertarik dengan program tersebut. Kini anggota kelompok Bumi Peternakan Wahyu Utama sudah tidak khawatir lagi soal harga. Alasannya, sejak awal sudah ada teken Memorandum of Undersatnding (MoU) patokan harga.

Ketika sudah waktunya panen, peternak atau pemilik sapi dapat menjualnya di Wahyu Utama. Tentunya dengan harga yang disepakati rata Rp 47 ribu per Kilogramnya. Meskipun harga tersebut di bawah harga pasar, namun peternak sudah untung sebab jual beli tidak dapat melalui makelar.

“Rata-rata harga daging di pasaran Rp 54 ribu hingga Rp 60 ribu,” tambahnya.

Salah satu langkah untuk menjamin harga sapi diantaranya, harus ada pengusaha yang memiliki link ke daerah lain. Apabila ada permintaan daging, peternak harus terlibat didalamnya. Serangkaian program ini lambat laun akan mewujudkan Tuban swasembada daging.

“Saya optimis dua tahun kedepan banyak daerah yang mengadopsi program ini,” tambahnya.

Sementara, Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Tuban, Pipin Diah Larasati, belum memberikan konfirmasi soal program tersebut.

Baca Juga :   Perhutani KPH Parengan Bagi Ribuan Bibit Jati

Diketahui, Bumi Peternakan Wahyu Utama kini anggotanya mencapai ribuan, dan sudah menyebar di Kabupaten Tuban, Bojonegoro Jawa Timur, Kabupaten Blora, dan Rembang, Jawa Tengah.

Selama ini Wahyu Utama telah bersinergi dengan Bank Indonesia (BI), Perusahaan Australia Indonesia Partnersip (AIP), dan perusahaan Minyak dan Gas Bumi (Migas) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *