SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Sebanyak 30 mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Makhdum Ibrahim ( STITMA) Tuban, Jawa Timur mengugat birokrasi kampus untuk segera membeber pengelolaan anggaran mahasiswa. Selama ini pengelola kampus dinilai tidak jelas dalam mengelola anggaran.
“Idealnya ada keterbukaan informasi publik dari pengelola serupa amanat Undang-Undang (UU) Nomor 14 tahun 2008,†kata Koordinator Lapangan (Korlap) Mahasiswa STITMA Tuban, Habib Mustafa, kepada suarabanyuurip.com, Senin (5/9/2016).
Habib menilai selama ini pihak birokrasi tidak pernah transparan soal anggaran Kuliah Kerja Nyata (KKN), maupun anggaran tahunan kemahasiswaan. Sekaligus tidak jelas prosentase anggaran untuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), maupun kebijakan terkait UKM di bawah naungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Selain menuntut transparansi, mahasiswa juga meminta Ketua III Bagian Kemahasiswaan STITMA Tuban untuk mundur dari jabatannya. Alasannya pejabat elit kamlus itu dinilai tidak becus menjalakan kewajibannya.
“Kalau tidak mampu bertugas sebagai ketua III mundur saja biar diganti pejabat yang lebih kompeten,†imbuh pemuda yang aktif di organisasi Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tuban tersebut.
Ketua III Bagian Kemahasiswaan STITMA Tuban, Syofina Yunus langsung merespon aksi mahasiswanya. Dia terkejut dengan aksi unjuk rasa kali ini, sebab sebelumnya tidak ada pemberitahunan demonstrasi.
Untuk menindaklanjuti tuntutan mahasiswa, pihaknya menawarkan pertemuan tatap muka. Supaya ada solusi ataupun kebijakan baru di kampus yang beroperasi di Jalan Manunggal Tuban ini.
“Tidak akan ada titik temu tanpa dilakukan dialog bersama,†sambungnya.
Lantaran penawaran tatap muka ditolak oleh mahasiswa, perwakilan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) STITMA Tuban, Sutrisno, sangat mengapresiasi sekaligus mendukung permintaan mahasiswa supaya ada keterbukaan anggaran kemahasiswaan.
“Saya mendukung dalam rangka perbaikan sistem, termasuk anggaran kemahasiswaan dan meminta ketua untuk menyusun anggaran secara terbuka,” jelasnya.
Sebelum massa membubarkan diri, beberapa mahasiswa memperagakan sebuah aksi teatrikal. Soal betapa sulitnya mengajukan dana kemahasiswaan yang berulang kali ditolak. (Aim)