SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Ada tujuh tuntutan yang dibawa perwakilan warga Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang tergabung dalam Aliansi Masyarak Peduli (Ampe) Panas Flare dalam pertemua dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Migas Banyuurip, Blok Cepu, pada pertemuan di Mapolres Bojonegoro, Senin (5/9/2016) kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, Ali Mustofa, perwakilan warga yang juga merupakaan koordinator Ampe Panas Flare menyampaikan ketujuh tuntutan itu adalah EMCL memberikan kompensasi beras kepada masyarakat selama flare Banyuurip masih menyala, disediakan rumah emergency respon berupa rumah kesehatan yang beraktifitas 24 jam agar ketika terjadi kebocoran gas bisa cepat tertangani.
Kemudian adanya jaminan asuransi kesehatan kepada masyarakat, pembuatan irigasi sebag sumber air untuk lahan persawahan, sekolah lapang untuk pertanian agar masyarakat bisa meningkatkan hasil pertanian dan komoditi pertanian di Desa Mojodelik, akses informasi lapangan pekerjaan tenaga teknik untuk warga lokal, dan beasiswa strata satu (S-1) kepad seluruh pemuda di desa setempat agar memiliki pendidikan tinggi.
“Karena warga tidak mau selamanya menjadi kuli di atas tanahnya sendiri,” kata Mustofa.
Pertemuan ini merupakan tindaklanjut dari unjuk rasa yang dilakukan Ampe Panas Flare di jembatan layang (fly over) Banyuurip, serta Gedung DPRD dan Kantor Pemkab Bojonegoro beberapa waktu lalu.
Pertemuan ini sendiri sempat gagal dilaksanakan saat akan difasilitasi Pemkab Bojonegoro. Tak ada satu pun warga datang memenuhi undangan pemkab, dan memereka menginginkan pertemuan dilaksanakan di tempat netral.(rien)