SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Ratusan eks penambang minyak mentah Lapangan Gegunung, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, hingga kini masih menganggur. Sebagian besar belum beralih profesi karena menunggu solusi Perusahaan Daerah Aneka Tambang (PDAT), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat.
“Masih banyak yang belum beralih profesi,†kata eks penambang Sumur 11 (Ketek), Slamet, kepada suarabanyuurip.com, ketika ditemui di Kecamatan Bangilan, Rabu (7/9/2016).
Nasib ratusan bekas penambang itu menggantung setelah Lapangan Tawun Gegunung dikelola PDAT. Sesuai janji PDAT Tuban sebulan pasca penertiban sumur tua, Selasa (9/8/2016) lalu, seluruh eks penambang tradisional hendak dikumpulkan. Akan tetapi hingga kini belum ada pemberitahuan apapun dari pengelola 10 sumur minyak Gegunung.Â
Slamet bersama ratusan eks penambang lainnya sangat membutuhkan solusi dari PDAT. Apakah masih dilibatkan dalam pengerjaan sumur, atau harus kembali berprofesi lama sebagai pekerja serabutan.
Kini sebagian penambang yang memiliki lahan sawah kembali menjadi petani. Sedangkan bagi yang tidak memiliki sawah rawan untuk bertindak kriminal.
“PDAT harus segera memberikan solusi atau pengerjaan sumur akan terganggu,†ancamnya.
Slamet yang merupakan warga Dusun Tuwiwiyan, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan juga termasuk penggerak aksi pemblokiran akses menuju Lapangan Migas Tawun, Senin (5/9) kemarin. Pihaknya juga mempertanyakan keseriusan Kerja Sama Operasional (KSO) Tawun Gegunung energy (TGE) untuk melibatkan warga dalam pengerjaan sumur.
Hingga berita ini ditulis, Plt BUMD PDAT Tuban, Cucuk Dwi Sukwanto, belum memberikan konfirmasi apapun soal solusi maupun keterlibatan eks penambang dalam mengelola sumur tua.
Diberitakan sebelumnya, ada 22 sumur tua di Lapangan Gegunung 18 diantaranya sudah ditinggalkan warga, lantaran kehabisan dana, rusaknya casing, maupun menipisnya cadangan minyak.
Dalam satu harinya satu sumur rata-rata mampu menghasilkan 6 hingga 8 drum minyak. Untuk satu liter minyak biasanya dijual seharga Rp 2 ribu, sehingga satu drumnya Rp 400 ribu. (aim)