Komunikasi Kunci Atasi Masalah Sosial Migas

sabrang

SuaraBanyuurip.comd suko nugroho

Bojonegoro –Masih banyak gejolak sosial masyarakat yang muncul dalam kegiatan industri hulu migas di tanah air dikarenakan belum optimalnya komunikasi yang dibangun oleh pemerintah dan perusahaan dengan warga.

“Sehingga menjadikan masyarakat belum menyadari betapa pentingnya energi bagi kehidupan mereka sehari-hari,” kata budayawan muda, Sabrang Mowo Damar Panuluh saat menjadi nara sumber dalam Lokakarya Media dan FKKIHM periode II yang dilaksanakan SKK Migas dan KKKS Jabanusa di Hotel Royal Senyiur Prigen Pasuruan, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, jika kesadaran masyarakat tumbuh tentu akan melahirkan empati (kepedulian) terhadap kegiatan industri migas. Apalagi sesuai data yang disampaikan SKK Migas, lanjut vokalis Letto itu, sekarang ini telah terjadi kesenjangan antara produksi dengan kebutuhan energi. Yakni produksi minyak saat ini hanya berkisar antara 820 ribu – 830 barel per hari (BPH). Sementara tingkat konsumsi mencapai 1,6 juta bph.

“Seharusnya pemerintah dan perusahaan membangun komunikasi secara lebih terbuka agar masayarakat menyadari hal ini,” ucap Sabrang.

Baca Juga :   Minta Pertagas Antisipasi Kebocoran Pipa Gas

Putra budayawan Emha Ainun Nadjib dengan istri pertamanya, Neneng Suryaningsih, itu menilai selama ini masyarakat tidak peduli dengan krisis energi yang mengancam Negara Indonesia.

“Mereka belum menyadari kalau speda motor yang mereka pakai, listrik yang mereka gunakan sehari-hari selama ini, itu berasal dari migas,”  ujar Sabrang, mengungkapkan.

Field Admint Superintendent Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOBP-PEJ), Akbar Pradima dalam kesempatan tersebut menyampaikan jika selama ini pihaknya telah memberikan program pemberdayaan masyarakat melalui program corporate social responsibility (CSR) maupun tali asih kepada masyarakat sekitar Lapangan Mudi dan Sukowati Blok Tuban.

“Namun gejolak sosial masyarakat masih saja muncul. Mengapa ini bisa terjadi ?” sambung Akbar.

Mendapat pertanyaan itu, Sabrang  menegaskan kuncinya adalah membangun komunikasi. “Ibaratnya masyarakat itu adalah anak-anak dari kontraktor migas. Jadi perlu dimomong agar mereka menjadi ngerti,” pungkas pria yang akrab disapa Neo Letto itu.(suko) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *