Mendulang Masa Kejayaan Bengawan

SuaraBanyuurip.com

Sungai Bengawan Solo menyimpan banyak cerita. Kisah itu pun ditampilkan dalam festival “Bengawan Bojonegoro” untuk mendulang masa kejayaan sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut.

SEJAK pagi, puluhan perahu hias mulai merapat di bibir bendung gerak di Desa Padang Mori, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (25/9/2016). Puluhan perahu itu mengusung beragam tema tentang cerita Sungai Bengawan Solo.

Sebagian besar adalah tentang kearifan lokal kehidupan masyarakat Bojonegoro di sepanjang bengawan. Mulai potensi, pesan lingkungan, cerita rakyat yang berkembang, legenda yang menyelimuti sungai yang membelah Pulau Jawa itu.

Seperti legenda Mbok Rondo Mori dan Kebo Bule yang mengkisahkan tentang Joko Popok Angon. Legenda ini diusung oleh warga Desa Mori, Kecamatan Trucuk. Kemudian, “Bajul Kliwon” yang disimbolkan berupa buaya putih sebagai salah satu penunggu Sungai Bengawan Solo.   

Selain itu Boh Gadung, yang merupakan cerita rakyat warga Desa Guyangan, Trucuk. Perahu ini dihias layaknya sebuah kerjaan yang diisi dengan tari-tarian.

Ada juga Wiropati yang dihadirkan oleh warga Banjarsari. Juga  Ogoh-ogoh yang dipercaya sebagai hantu Bengawan Solo. Ogoh-ogoh ini berbentuk buto (rakasa) berkulit hijau dengan giginya bertaring.

Mbah Balok yang merupakan simbol kayu jati raksasa yang pernah di temukan warga tepian bengawan. Mbah Balok ini juga sebagi bukti sejarah jika Sungai Bengawan Solo pada masa kejayaannya dulu menjadi jalur transportasi air untuk mengangkut kayu jati unggul.

Baca Juga :   Kesepakatan Pelipur Lara

Tak terkeculai penampilan yang mengusung potensi sapi ternak dari Desa Ngablak. Juga gambar ikan besar yang menghiasi perahu dengan bertuliskan “Jangan Racun Kami” sebagai pesan lingkungan.

“Semua cerita yang ditampilkan ini untuk menguri-uri budaya leluhur. Agar para generasi tidak melupakan sejarah Bengawan Solo,” kata Suwoto, warga Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.

Festival yang sudah ke tiga kali untuk memperingati Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ini menyedot perhatian pengunjung dari dalam dan luar Bojonegoro. Seperti Lamongan, Tuban, Rembang, dan Dinas Kebudayaan dan Provinsi Jatim.

Warga berbondong-bondong memadati bibir bendung gerak sebagai lokasi pemberangkatan dan sepanjang bibir bengawan yang dilewati perahu hias. Mereka rela berpanas-panasan untuk menyaksikan festival tahunan tersebut.

Sebelum puluhan perahu diberangkatkan oleh Bupati Bojonegoro, Suyoto didampingi forum pimpinan daerah (Forpimda), lebih dulu dilaksanakan bersih sungai di Taman Bengawan Solo (TBS), tari-tarian, dan larung sesaji.

Larung seji ini merupakan bentuk melestarikan tradisi leluhur, dan untuk meminta keselamatan. Dalam larung sesajai ini mengorban satu ekor kambing mendit (kecil).

“Kambing ini kita pilih karena melambangkan kekuatan para penambang perahu. Meskipun secara fisik mereka kecil, tapi sangat memberi manfaat bagi orang banyak. Itu sudah teruji,” kata Suyanto, Ketua Koordinator Hiburan, Perlombaan dan Keramaian Festival Bengawan Bojonegoro.

Baca Juga :   Koperasi Merah Putih Merebah di Persimpangan Jalan Desa

Melalui festival ini, Bupati Suyoto berharap menjadi media bagi masyarakat sekitar Bengawan agar bisa lebih dekat dengan alam untuk senantiasa menjaga kebersihan sungai dan melestarikannya.

“Kalau ingin melihat peradaban manusia lihat Bengawan Solo. Kalau ingin melihat peradaban masyarakat Bojonegoro lihatlah Bengawan Bojonegoro. Karena bengawan ini memiliki banyak sejarah,” ujar Kang Yoto-sapaan akrab Bupati Suyoto.  

“Bengawan ini adalah simbol seorang Ibu yang baik dan lembut, dia memberikan hidup kepada masyarakat sekitarnya. Jadi jagalah dan rawatlah dengan baik,” pesannya.

Dalam festival perahu hias itu diikuti oleh 30 desa, sembilan perahu dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan perusahaan serta dua perahu khusus yang mengangkut tamu undangan. Ada tiga kategori penilaian perahu hias ini yakni dari kesesuaian tema, kreativitas peserta dan ketertiban serta keamanan peserta di atas air.

Sebanyak 50 anggota tim SAR diterjunkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro untuk mengamankan festival ini. Mereka mengawal peserta perahu hias sampai titik finis di Taman Bengawan Solo (TBS), Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk.(d suko nugroho) 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *