SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Potensi ancaman tanah longsor di 10 kecamatan di wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mendapat perhatian khusus Bupati Suyoto. Orang nomor satu di jajaran birokasi Bojonegoro itu telah menginstruksikan kepada semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Pagi tadi instruksi sudah saya berikan kepada semua satker,†kata Suyoto melalui pesan pendek yang dikirim kepada suarabanyuurip.com, Minggu (25/9/2016) malam.
Instruksi ini diberikan setelah pihaknya mendapatkan  data dari Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG ) jika ada sepuluh kecamatan di wilayahnya yang berpotensi terjadi longsor.
Ke sepuluh wilayah itu adalah Kecamatan Temayang, Ngambon, Sugihwaras, Tambakrejo, Margomulyo, Bubulan, Purwosari dan Malo. Sedang dua kecamatan berada di Bojonegoro barat (Kasiman) dan utara kota (Trucuk). Kecamatan tersebut mayoritas berada di wilayah selatan yang berpotensi longsor menengah dan tinggi.Â
“Saya instruksikan untuk mengenali tanda-tanda real-nya, seperti tegakan miring, air sumur tidak ada airnya dan lain-lainnya,†tegas Kang Yoto-sapaan akrab Bupati Suyoto.
Menanggapi hal itu, Kepala BPBD Bojonegoro, Andik Sudjarwo menyatakan, telah melakukan sosialisasi kepada wilayah-wilayah yang berpotensi terjadi bencana, termasuk 10 kecamatan tersebut.
“Kita sudah meminta kepada camat, kepala desa, dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, meskipun ancaman itu belum ada tanda-tandanya,†ujar Andik dikonfirmasi terpisah.Â
Sebelumnya, Ketua FPBI Bojonegoro M.Nurcholis mengatakan, hal ini adalah sebuah early warning, tanda-tanda potensi longsor diantaranya adanya sumur-sumur penduduk yang biasanya masih terdapat air tiba-tiba air aumur tersebut kering.
Selain itu bangunan tinggi, pohon besar serta bangunan tegakan (tiang listrik, tower) mendadak terlihat miring. Faktor lainnya, lanjut Nurcholis, adalah kejadian alam yang bisa dijadikan patokan potensi longsor adalah keruhnya mata air yang biasanya jernih.
“Apalagi jika ada sungai yang biasanya mengalir deras tiba-tiba alirannya mengecil atau bahkan berhenti, itu adalah tanda berpotensi terjadinya longsor serta memungkinkan sewaktu-waktu terguyur hujan bisa terjadi banjir bandang,” jelasnya.(suko)