Bersiap Datangkan Tim Riset Pembanding

SuaraBanyuurip.com Ali Imron

Tuban– Lantaran tak kunjung ada sosialisasi hasil riset dampak flare ITS dari operator Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ), Pemerintah Desa (Pemdes) Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur sedang bersiap mendatangkan tim riset pembanding. Saat ini langkah tersebut masih tahap pembahasan di internal perangkat desa, sekaligus menentukan anggaran dan pemilihan tim riset yang mumpuni.

“Kami berencana mendatangkan tim riset pembanding untuk membuktikan seberapa besar dampak flare Pad A Mudi,” kata salah seorang Perangkat Desa Rahayu, Sutikno, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (28/9/2016) kemarin.

Selama ini warga bersama Pemdes Rahayu penuh tanda tanya, data seperti apa yang dihasilkan tim riset ITS Surabaya itu. Apabila data riset tersebut menjadi rujukan pemberhentian kompensasi, tentunya harus segera disampaikan ke warga.

Sutikno menyebut warga Rahayu memiliki hak mengetahui atas data riset tersebut, apabila operator belum menjadwalkan jangan salahkan Pemdes kalau mendatangkan tim riset pembanding. Desakan pencairan kompensasi ini sebenarnya ada kesalahan dari pihak operator.

Baca Juga :   BLH Rekomendasikan JOB P-PEJ Lakukan Penghijauan

“Apabila sejak bulan Januari 2016 lalu disampaikan kompensasi sudah tidak ada, tentuntunya tidak serumit ini prosesnya,” imbuhnya.

Pihaknya hanya menekankan bahwasanya, pemdes tetap ingin kompensasi 8 bulan terakhir diberikan dahulu. Selanjutnya segera membahas soal revisi perjanjian yang disepakati tahun 2009 silam.

Government Relations (Govrel) JOB P-PEJ, Dody Ibnu Fajar, meminta perangkat desa bersama warga Rahayu bersabar dahulu. Saat ini pihaknya telah mengirim ulang berkas risalah seluruh pertemuan tentang kompensasi selama ini ke Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

“Saat ini tinggal menunggu hasil keputusan dari SKK Migas, semoga apapun hasilnya tidak merugikan pihak manapun,” sambungnya.

Sementara, Asisten Profesor Departemen of Enginering Physics Faculty of Industrial Tecnology ITS Surabaya, Dr. Eng, Dhany Arifianto menyebut, secara saintifik dan sudah dapat dibuktikan secara ilmiah kalau operasional di JOB P-PEJ sudah tidak berdampak.

“Hasil riset kajian itu dilakukan mulai dari pengukuran modeling matematik, dan pengolahan data sampai intrepetasi data,” tegasnya.

Baca Juga :   Anggota Bank Sampah Delima Merambah Wonocolo

Untuk suhu pembakaran flare hasilnya juga tidak berpengaruh, sebab radiusnya hanya 50 meter dari titik flare. Apalagi kalau diukur dari radius 100 meter, sudah tidak berdampak terhadap pemukiman penduduk.

Selama penilitian laju gas buang paling rendah 2,1 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) dan paling tinggi 2,6 MMSCFD. Hasil tersebut kapanpun maupun dimanapun kami ukur hasilnya sama.

“Secara matematik suhu sekitar flare hanya 35 derajat celcius. Itupun tepat berada dibawah flare, dan dampaknya hanya di radius 50 meter,” pungkasnya. (Aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *