SuaraBanyuurip.com -Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Hingga kini, gas bumi yang akan diproduksi dari Unitisasi Gas Jambaran-Tiung Biru (J-TB) oleh Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC), belum juga laku terjual.
Hal ini membuat pemerintah memberikan alternatif berupa penawaran tiga insentif. Dengan insentif ini diharapkan proyek gas J-TB bisa menjadi lebih ekonomis.
Insentif yang pertama adalah pemberian investment credit atau tambahan pengembalian biaya modal dalam jumlah tertentu, yang berkaitan langsung dengan fasilitas produksi.
Insentif kedua, adalah skema bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor di Lapangan Tiung Biru.
Ketiga, mengkaji pemberlakukan cost recovery atau pemulihan biaya operasi di Lapangan Tiung Biru. PEPC saat ini masih melakukan kajian mengenai tenggat waktu depresiasi yang bisa diterapkan di lapangan gas tersebut.
“Penawaran insentif itu masih dalam kajian PEPC,” ujar Direktur Utama PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Adriansyah, Minggu (2/10/2016).
Selama melakukan kajian, PEPC Â menunda proses Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) sampai keputusan dari pemerintah terkait insentif seperti apa yang akan diberikan untuk Lapangan Tiung Biru.
“Kami berharap pemberian insentif dari pemerintah itu, membuat harga gas dari  Tiung Biru bisa kompetitif,” tandasnya.
Seperti diketahui, gas dari  Jambaran-Tiung Biru belum laku meski sebelumnya Pupuk Kujang Cikampek (PKC) akan memanfaatkannya dengan membangun pabrik pupuk di Kecamatan Gayam. Namun masih belum ada kesepakatan karena PKC menginginkan harga yang lebih rendah, yakni US$ 7 per mmbtu. Begitupula dengan Perusahaan Listrik Negara yang meningingkan harga lebih rendah.(Rien)