SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Dengan seksama 85 perwakilan mahasiswa dari universitas di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menyimak cerita tentang pahlawan RM. Tirto Adhi Suryo yang disampaikan Sastrawan Jawa yang juga sejarahwan, JFX Hoery.
Kisah pahlawan nasional tersebut diceritakan dalam seminar yang diselenggarakan Kodim 0813 Bojonegoro dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia ke 71 di Gedung Ahmad Yani Jalan HOS Cokroaminoto, Selasa (4/10/2016).
“RM. Tirto Adhi Suryo adalah pahlawan nasional dari Bojonegoro atau yang biasa disebut TAS tahun 1880-1918,” kata JFX Hoery saat menjadi narasumber dalam seminar itu.
Semasa perjuangannya, lanjut Hoery, R.M. Tirto Adhi Suryo tidak pernah mengangkat senjata saat melawan penjajah Belanda. Melainkan hanya menggunakan senjata pena atau tulisan.
“TAS merupakan perintis Pers Nasional. Koran yang dimiliki bangsa Indonesia pada tahun 1890an,” tegas Sastrawan Jawa yang sudah beberapa kali menerima penghargaan nasional itu.
Dengan koran itulah TAS menjadikannya sebagai alat propaganda politik kebangsaan. Adapun alat propaganda politik kebangsaan itu berisikan wawasan kebangsaan, hukum, budaya serta kesehatan dan sastra dengan motto berita Soenda, yaitu “Kepunyaan Kami Pribumiâ€.
Tulisan-tulisan TAS yang pedas dan mengkritik pemerintahan Belanda, kata Hoery, membuatnya kemudian ditangkap.
“Karena dianggap dapat membahayakan pemerintah,” ucap mantan anggota DPRD Bojonegoro dari Kecamatan Padangan itu.
Setelah itu TAS diadili dan dijatuhi hukuman buang ke Teluk Betung (Sumatera) serta Bacan (Maluku). Sekembalinya TAS dari hukuman itu, TAS menderita penyakit hingga akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918.
“TAS meninggal di usia muda yakni 38 tahun,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, nara sumber lainnya, Anas AG menyampaikan, memahami sejarah merupakan suatu hal yang penting. Sebab, segala sesuatu yang ada di sekitar sebagian besar merupakan peninggalan sejarah.
“Sehingga, harus dihormati dan dikenang. Sebagaimana bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengenang serta menghargai peninggalan sejarah,†sambung Pimpinan Redaksi Radar Bojonegoro itu.
Seminar yang dipimpin langsung Dandim 0813 Bojonegoro, Letkol Inf M. Herry Subagyo ini berlangsung gayeng. Kepada para peserta M Herry berpesan, sebagai pewaris sejarah tidak boleh melupakan sejarah itu sendiri. Karena yang dimiliki dan nikmati sekarang ini adalah sejarah.
“Ini merupakan upaya maupun hasil dan jerih payah atas pengorbanan para Pahlawan pendahulu yang sudah berjuang,†tegas  M. Herry Subagyo.
Untuk itu, pihaknya berharap para mahasiswa tidak sekali-kali untuk melupakan atau meninggalkan sejarah. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.
“25 tahun mendatang adik-adik mahasiswa adalah generasi para pemimpin bangsa, sesuai dengan profesi masing-masing. Sehingga, kita jangan sekali-kali kita melupakan sejarah itu,†pesannya.(suko)