SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Jakarta – Pasca pembentukan perusahaan patungan, kini Pertamina bersama investor Kilang Tuban, Jawa Timur, Rosneft Rusia sepakat bahwa pasokan minyak Kilang Tuban bukan hanya dari Rusia. Pertamina mulai membuka kesempatan bagi negara lain, untuk ikut memasok dengan catatan saling menguntungkan.
“Negara lain berpeluang mensuplai minyak, asal memberikan keuntungan,” kata Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi, dalam siaran resminya di media Nasional, Kamis (6/10/2016).
Menurut Rachmad, walaupun joint venture dilakukan dengan Rosneft, tidak menutup kemungkinan pasokan minyak mentah ke Kilang Tuban berasal bukan hanya dari Rosneft atau Rusia. Perusahaan minyak Internasional memiliki peluang besar, terlibat dalam Kilang Tuban yang ditargetkan mulai dibangun akhir tahun 2017.
Pasca penandatangan kesepakatan pembentukan perusahaan patungan, kini kedua perusahaan akan melakukan studi kelayakan sampai Februari 2017. Bila semua data menunjukkan baik, berlanjut ke basic engineerig design lalu front end engineering design.
Sementara, Direktur Utama Pertamina Dwi Sutjipto mengatakan, penandatanganan joint venture pembangunan Kilang Tuban merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang sudah dibentuk.
“Akan tetapi ada beberapa hal yang masih harus diselesaikan, sekaligus melihat bagaimana hasil bankable feasibility studyi (BSF)-nya,” sambungnya.
Selain membentuk perusahaan patungan atau joint venture, Pertamina juga diberikan kesempatan untuk mengelola ladang migas di Rusia.
Diinformasikan sebelumnya, PT Pertamina (persero) bersama Rosneft Rusia pada hari Senin malam (3/10/2016) telah sepakat menandatangani pembentukan perusahaan patungan untuk membangun kilang minyak bumi di Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Keduanya menyepakati komposisi saham dimana Pertamina menguasai 55 persen, dan sisanya milik Rosneft.
Hingga kini Dwi belum bisa menjelaskan detail, berapa investasi yang dibutuhkan perusahaan patungan tersebut. Awalnya, total investasi pembangunan Kilang Tuban diperkirakan US$ 13 miliar. Saat ini kedua perusahaan tengah fokus menyelesaikan BFS, atau studi kelayakan pendanaan bank.
Untuk proses studi ini ditargetkan selesai Januari 2017. Kemudian baru diketahui rincian investasi yang dibutuhkan untuk membangun Kilang Tuban. (Aim)