SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Salah seorang pengikut atau santri Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi (PDKTP), Hasyim Asyari asal Desa Klotok, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur menolak kalau gurunya Dimas Kanjeng disebut mampu menggandakan uang.
Menurut Hasyim, gurunya yang diyakini keturunan darah biru itu, memiliki ilmu pengadaan uang dari yang semula tidak ada menjadi ada.
“Berita yang mencuat di media sosial (Medsos) itu keliru, Dimas Kanjeng bukan menggandakan tapi pengadaan uang,” kata Hasyim Asyari yang ditemui di pondoknya di Desa Klotok Plumpang, Jumat (7/10/2016).
Awalnya, Hasyim juga tidak percaya dengan kehebatan atau karomah yang dimiliki Dimas Kanjeng. Sebelum bergabung dia bercerita telah melakukan Sholat Istikharah, atau meminta petunjuk sang Esa. Pada suatu malam dia dalam keadaan sadar didatangi Dimas Kanjeng beserta gurunya, awalnya tidak percaya tetapi kejadian itu terulang kembali.
Akhirnya pada tahun 2012, dia memutuskan untuk bergabung menjadi santri di PDKTP. Soal mahar atau registrasi awal, Hasyim mengaku tidak ada kewajiban dari padepokan. Seseorang yang bergabung sadar, untuk masuk ke lokasi baru tentunya tidak gratis.
“Dulu saya memberi mahar Rp 200 ribu, dan ini tidak ada patokannya,” imbuhnya.
Soal isu Dimas Kanjeng dapat menggandakan uang, awalnya dia tidak percaya. Pada suatu kesempatan dirinya menyaksikan langsung dari belakang punggungnya, Dimas Kanjeng mengeluarkan uang Rp 700 ribu.
Kabar bahwa ada rekayasa dengan jubah atau bantuan jin, menurutnya itu manipulasi dari pemangku kepentingan daerah setempat. Sesuai informasi dari pengurus PDKTP di Probolinggo, pimpinan daerah setempat sengaja menuduh ajaran Dimas Kanjeng sesat.
‪Padahal selama ini kegiatannya sama dengan di pesantren pada umumnya, mulai Sholat, mengaji, istighosah hingga beraktifitas serupa kehidupan keluarga. Ilmu pengadaan uang gurunya itu, menurutnya sama dengan keajaiban yang pernah dialami Nabi Sulaiman saat meminta Kerajaan Ratu Bilqis pindah.
“Ilmu itu juga nyata dimiliki Dimas Kanjeng, yakni keajaiban Kun Fayakun,” jelasnya.
Selamanya, keajaiban di padepokan Dimas Kanjeng tidak dapat diterima oleh akal sehat, namun itu nyata tanpa direkayasa. Sudah empat tahun lamanya pihaknya rutin istigosah di Probolinggo, dan dijanjikan pada suatu saat akan diberi uang yang diadakan gurunya.
Hal senada juga di sampaikan Samin (60), pihaknya juga sudah 4 tahun mengikuti ajaran gurunya. Selama itu, dirinya mendapat banyak ketenangan, hingga inspirasi untuk berjalan menuju masa depan.
“Tidak ada yang memaksa saya, dan awalnya hanya memberi mahar Rp 50 ribu,” sambungnya.
Informasi yang dihimpun suarabanyuurip.com di beberapa warga sekitar, Hasyim selaku sub koordinator PDKTP Tuban disinyalir banyak menipu korbannya. Setiap pengikutnya dikabarkan sampai memberi mahar Rp 20 juta.
Keterangan dari Hasyim ada 60 pengikut Dimas Kanjeng di Tuban, untuk alamat maupun identitasnya pihaknya enggan menyebutkan.
Dimas Kanjeng yang digerebek beberapa waktu lalu kini menjadi berita utama di Nasional. Ilmu menggandakan uang tersebut menjadi buah bibir berbagai kalangan, dan dinilai tidak rasional. (Aim)