SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur, hari ini, Sabtu (8/10/2016), mulai membuka posko Disanter Victim Identification (DVI) antre mortem di dekat titik pencarian Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban.
Hingga saat ini keluarga dari tujuh korban tenggelam, enam di antaranya sudah melaporkan identitas maupun ciri-ciri santri yang tenggelam saat menaiki perahu penyemberangan di Sungai Bengawan Solo pada Jum’a (7/10/2016) kemarin.
“Hingga saat ini tinggal satu keluarga santri tenggelam, Rizki Nur Habib (15) asal Kecamatan Pecutseituan, Deli Serdang, Sumatera yang belum melaporkan kepada tim DVI,” kata salah seorang tim DVI Biddokkas Polda Jatim yang enggan disebut namanya, kepada suarabamyuurip.com, Sabtu (8/10/2016).
Dia menjelaskan, maksud dan tujuan dari posko ini untuk mwngumpulkan data korban sevalid mungkin. Baik itu tanda tubuh, bekas luka, maupun asesoris yang sering dipakai korban.
Semakin banyak informasi korban dikumpulkan, semakin cepat pula penangananya oleh tim medis. Pengalaman sebelumnya, ketika data korban minim sangat bersiko tertukar jenazahnya. Untuk mengantipasi hal tak terduga, pihaknya membuka kesempatan kepada keluarga korban untuk berpartisipasi informasi.
“Kami akan menerima informasi apapun tentang korban,”imbuhnya.
Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban, Joko Ludiono. Pihaknya mendukung partisipasi tim DVI Polda Jatim dalam mempercepat proses identifikasi korban.
“Data ante-mortem yang terus dikumpulkan diantaranya sidik jari, rekam gigi, foto tersenyum, tanda khusus pada tubuh, misalnya tato dan bekas operasi, serta informasi soal baju atau aksesori yang dikenakan anggota keluarga sesaat sebelum tenggelam,†sambung Joko.
Untuk hari ini, dua keluarga yang baru datang menemui tim DVI diantaranya, kakak kandung dari santri Muhsin (16), asal Kecamatan Tambaksari, Surabaya, dan ayahnya santri M. Arif Mabruri (18), asal Kecamatan Sumberejo, Bojonegoro.
Pantauan suarabanyuurip.com di lokasi pencarian, baru saja hujan deras mengguyur lokasi pencarian. Sementara 10 perahu boat dan dua perahu tradisional berhenti, dan melanjutkan pencarian ketika hujan reda.
Hingga saat ini, pasca evaluasi pencarian korban hari pertama tim SAR percaya korban masih ada yang selamat. Tujuh korban santri tenggelam yang belum ditemukan meliputi, Abdullah Umar asal Kecamatan Bedilan, Kabupaten Gresik, Muhammad Afiq Fadlil asal Desa Bulakparen, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Mohamad Barikrly Amry asal Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Muahmmad Arif Mabruri asal Desa Ngampal, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro.
Lainnya, Muhsin asal Desa Pacar Kembang, Kecamatan Tambak Sari, Surabaya, Rizki Nur Habib asal Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deli Serdang, kemudian Lujaini asal Desa Ganden, Kecamatan Manyar, Kabupaten Lamongan. (aim)