Potensi Migas Sebagai Harapan Baru

CSR

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Industri migas di Bojonegoro telah memberikan harapan baru. Daerah yang dulunya miskin, kini menjadi maju.

Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus bergerak maju. Kabupaten yang berbatasan dengan Tuban, dan Blora, Jawa Tengah, itu telah menunjukkan perkembangan signifikan baik segi infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi.

Sebelumnya, Bojonegoro memiliki sejarah kemiskinan endemic  (CLM Penders (1984), Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North-east Java-Indonesia). Dari literatur kolonial Belanda tersebut, Bojonegoro selalu digambarkan sebagai salah satu daerah termiskin dan paling terbelakang di Jawa. Tanahnya tandus dan hampir tidak ada irigasi, lahan pertaniannya berkualitas buruk. Sedangkan daerah yang subur berada di dekat Bengawan Solo juga sering menjadi sia-sia terkena banjir selama musim hujan.

Namun kondisi itu berubah sejak di Bumi Angling Dharma –sebutan lain Bojonegoro- ditemukan sejumlah Lapangan Minyak dan Gas Bumi (Migas). Sebut saja Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL); Lapangan Sukowati, Blok Tuban, yang dioperatori Joint Operating Body Pertamina – Petrochina East Java (JOBP-PEJ), Lapangan Tiung Biru (TBR) yang dikelola Pertamina EP Aset 4 Field Cepu, dan Lapangan Gas Unitisasi Jambaran – Tiung Biru (J-TB) yang dikelola Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC).
Produksi migas di Bojonegoro ini dapat menyumbang 20 persen produksi nasional. Sekarang ini sebagian besar lapangan migas tersebut telah berproduksi. Seperti Lapangan Banyuurip, Sukowati, dan TBR.

Hasilnya pun telah dirasakan pemerintah kabupaten (Pemkab) melalui dana bagi hasil (DBH) migas setiap tahun, pajak maupun restribusi resmi. Pun pemerintah desa dan masyarakat sekitar pemboran menerima program tanggungjawab social perusahaan (corporate social responsibility/CSR) yang diberikan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Migas.

Baca Juga :   Pemdes Minta Pipa Geo Link Ditanam

Mulai dari perbaikan infrastruktur jalan, lembaga pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Juga peningkatan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan bersertifikasi maupun keterampilan berupa kerajinan. Tujuannya agar mereka mandiri dan mampu menangkapkan peluang dan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga dapat meningkatkan ekonomi keluarga. Semua program-program yang diberikan tersebut dilaksanakan KKKS secara berkelanjutan.

Semua program CSR yang digulirkan KKKS yang beroperasi di Bojonegoro ini pun sudah mulai menampakan hasilnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro, sektor pertambangan migas di Bojonegoro menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Bojonegoro yakni mencapai 19,47 persen pada tahun 2015.

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi ini, berdampak pada menurunya kemiskinan di Bojonegoro. Tercatat jumlah kemisikanan pada tahun 2015lalu, turun 50 persen. Sementara indek rasio kini sekitar 0,24.

Ada beberapa strategi yang menjadi kunci kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk mengantar capaian ini. Yakni bagaimana sektor migas membawa dampak eksplorasi dan eksploitasi migas di Bojonegoro pada kesejahtaraan rakyat. Caranya dengan mengoptimalisasikan potensi lokal baik tenaga kerja, barang maupun kesempatan bisnis bagi pengusaha lokal.

“Dengan cara ini sektor migas telah memberi kesejahteraan bagi rakyat Bojonegoro,” ujar Bupati Suyoto.

Strategi lainnya, semua pendapatan dari DBH migas hanya untuk belanja yang berdampak pada pertumbuhan berkelanjutan. Yaitu, penguatan sumber daya manusia, infrastruktur yang relevan bagi pertumbuhan pembangunan dan penguatan fiskal dalam jangka panjang.

“Di dalamnya ada investasi sektor keuangan dan pembentukan dana abadi,” imbuhnya.

Baca Juga :   Produksi Minyak TBR 1050 Bph

Bupati yang akrab disapa Kang Yoto ini menegaskan jika pendapatan dari migas dikelola cerdas manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh generasi sekarang, tapi juga generasi mendatang.

“Untuk menghindari mabuk migas, kita harus sanggup berhemat, menunda kenikmatan, popularitas, dan gemerlap. Sehingga begitu migas habis, kita masih memiliki daya tarik,” pungkasnya.

Karena itu Kang Yoto mengajak semua pihak untuk mendukung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas ini. Sebab secara fakta maupun analisis, Bojonegoro memiliki kekayaan alam yang melimpah.

“Di Hari Jadi Bojonegoro yang ke 339 ini, saya berharap  semoga keberadaan industri migas bisa semakin meningkatkan ekonomi warga dan sumberdaya manusianya. Tentu saja memberi berkah yang luar biasa bagi Bojonegoro dan Bangsa Indonesia,” pungkas Kang Yoto.

Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Ali Masyhar menyampaikan, Bojonegoro kini menjadi harapan bagi bangsa Indonesia, Pemprov Jatim, dan tentu saja Kabupaten Bojonegoro sendiri.

Potensi migas yang ditemukan mampu menopang 20 persen kebutuhan minyak nasional, dan keberadaan blok-blok  baru akan dinantikan seiring menurunnya tingkat produksi migas.

Ali mengajak semua semua elemen, baik pemerintah, masyarakat, maupun media, untuk memanfaatkan keberadaan industri migas ini sebaik- baiknya.

“Sehingga bisa menjadi berkah untuk kita semua,” sambung Ali.

Karena sudah terbukti, Bojonegoro memiliki kandungan migas yang besar, dan ini patut  disyukuri bersama.

Selamat Hari Jadi Bojonegoro ke 339, semoga kekayaan alam berupa migas menjadi berkah bagi semua rakyat Bojonegoro.(ririn wedia)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *