Waspadai Ancaman Perang Energi

korem mojokerto

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Bojonegoro – Komandan Korem (Danrem) 082/CPYJ, Kolonel Kav Gathut Setyo Utomo meminta semua pihak mewaspadi ancaman terhadap keutuhan Negara Republik Indonesia (NKRI). Salah satunya perang energi yang terjadi sekarang ini yang dapat berdampak pada perang ekonomi.

Gathut menuturkan, sesuai pesan Panglima TNI, perang energi ini menjadi ancaman nyata karena Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) melimpah yang membuat iri negara-negara lain untuk menguasainya.

“Konflik di dunia bersumber dari perebutan energi. Terakhir di Ukraina, negara yang memiliki sumber minyak sangat besar,” kata Gathut saat menggelar silaturahmi dengan puluhan insan pers se wilayah Korem 082, Senin (21/11/2016) malam.

Mantan Komandan Kodim Sidoarjo itu kemudian mencontohkan seperti yang terjadi di Blok Masela yang berjarak 492 Kilo Meter (KM) dari Darwin Australia telah ditempatkan tentara Amerika Serikat.

“Ini merupakan ancaman nyata yang harus diwaspadai,” tandas Gathut.

Pria Kelahiran Jatirogo, Kabupaten Tuban, itu mengungkapkan, ancaman terhadap keutuhan NKRI ini terjadi dari segela penjuru karena geografis Indonesia dikepung dengan negara-negara jajahan Inggris seperti Selaindia Baru, Australia, Singapura, Malaysia dan Inggris. Negara ini kemudian melakukan perjanjian kerjasama pertahanan negara-negara persemakmuran Inggris.

Baca Juga :   Jelang Tahun Baru 2026, Harga Kebutuhan Pokok Rumah Tangga Turun ‎

Dari hasil analisa intelejen yang disampaikan Panglima TNi, lanjut Gathut, ada ancaman dari pihak luar yang ingin mengambil kepulauan Indonesia seperti Kalimantan, Sumatera, dan Papua yang memiliki SDA melimpah.

“Ada upaya memecah kepulauan Indonesia, dan hanya menyisakan kepulauan Jamali yakni Jawa Madura dan Bali,” tegas pria yang pernah berdinas di Garnesun Jakarta itu.

Salah satunya adalah Tiongkok yang mengklaim Laut Cina Selatan adalah wilayahnya, termasuk di sekitar Indonesia. Selain itu adanya operasi intelejen ekonomi Tiongkok di Indonesia.

Operasi intelejen ekonomi Tiongkok ini berbeda dengan Amerika Serikat dan Eropa yang mengirimkan intelejennya saat ada perang. Sedangkan Tiongkok mengirimkan intelejennya untuk kebutuhan ekonominya karena pertumbuhan penduduk di negara tersebut cukup tinggi.

Sehingga investasi yang dilakukan Tiongkok bukan sekadar investasi murni melainkan mereka ingin beranak pinak di Indonesia agar bisa makan.

“Operasi intelejen ekonomi Tiongkok ini seperti yang pernah disampaikan Bupati Bojonegoro, Suyoto,” ucap Gathut.

Untuk mengantisipasi ini, lanjut Gathut, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo telah membuat aturan bagi warga Tiongkok yang ingin bekerja di wilayahnya harus bisa bahasa indonesia.

Baca Juga :   Masyarakat Masih Enggan Datangi Kantor Pelayanan

“Peraturan ini sempat diprotes keras oleh pemerintah Tiongkok. Kenapa hanya Jawa Timur yang membuat aturan seperti itu,” kata dia mengungkapkan.

Pihaknya berharap kepada media dan masyarakat untuk segera melaporkan ketika menemukan aktivitas yang mencurigakan. “Segera laporkan agar bisa dilakukan pencegahan,” pesan Gathut.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *