SuaraBanyuurip.com – Athok Moch Nur Rozaqy
Bojonegoro- Sebanyak 30 orang anggota Tim Pelaksana (Timlak) dari enam desa di jalur pipa minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengikuti Pelatihan Program Aksi Kemitraan untuk Pemberdayaan Masyarakat (Patra Daya) yang di dampingi Lembaga Informasi dan Komunikasi Masyarakat Banyuurip Bangkit (LIMA 2B).
Direktur LIMA 2B, Mugito Citrapati menyampaikan tujuan dilaksanakannya pelatihan ini untuk menambah pengetahuan dan wawasan timlak yang didampingi LIMA 2B.Â
“Semoga dengan diadakannya pelatihan ini dapat menambah wawasan. Baik dari pengetahuan, tekhnis, maupun administrasi,” pesan Mugito saat pembukaan pelatihan di salah ruangan Hotel Aston Bojonegoro, Kamis (1/12/2016).
Timlak terdiri dari enam desa yang menerima program Patra Daya tahun 2016 dari ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL). Keenam desa tersebut adalah Desa Mojodelik Kecamatan, Gayam, Desa Talok, Kecamatan Kalitidu, Desa Campurejo dan Sukorejo, Kecamatan Kota, Desa Sembung dan Wedi, Kecamatan Kapas.
Perwakilan EMCL Ichwan Arifin menambahkan, pelatihan ini untuk melengkapi pengetahuan dan kemampuan para Timlak. “Pelatihan ini bagian dari melengkapi skill yang sudah ada,” imbuhnya.
Hadir sebagai pemateri dari internal Tim Tekhnis LIMA 2B, Sutrisno dan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPB) Universitas Indonesia, Darto Suprobo.
Dalam paparannya, Sutrisno menyampaikan secara prinsip pelaksanan program Patra Daya, hampir mirip dengan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang dilakukan pemerintah.
“Secara tekhnis nanti hampir sama pelaksanaanya. Mulai tahap perencanaan hingga penyusunan laporan,” urainya.
Sementara itu, menurut Darto Suprobo, pelaksanaan program Patra Daya lebih mengedepankan aspek pemberdayaan. Sebab, Timlak yang sudah terbentuk tidak semuanya membidangi soal tekhnis.
“Bapak – ibu yang ikut dalam Timlak dipilih karena mengemban amanah,” ujarnya.
Dalam meterinya, Darta Suprobo memberikan materi mengenai mekanisme dan regulasi tentang pengaaan material serta pelaporan. Sehingga antara pengerjaan lapangan dan anggaran dapat sesuai.
“Walaupun belum terpahami semua,nanti dilapangan bisa menghubungi tim pendamping. Karena sifatnya memang pemberdayaan,” paparnya.(roz)