SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Dampak banjir akibat meluapnya Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus meluas. Ratusan rumah dan ribuan hektar lahan pertanian di puluhan desa di enam belas kecamatan sepanjang di bantaran bengawan solo tergenang.
Banjir juga menggenangi jalan desa dan lembaga pendidikan. Akibatnya, aktivitas masyarakat tergangu. Bahkan sejumlah sekolah terpaksa diliburkan karena tergenang banjir.
“Dari laporan kami hingga tadi malam sudah ada 17 yang tergenang. Jumlah ini dipastikan terus bertambah karena banjir semakin besar,” kata Kepala Dinas Pendidikan Bojonegoro, Hanafi.
Pada pagi tadi, Tren Sungai Bengawan Solo terus naik. Tinggi muka air (TMA) di papan duga Tepi Bengawan Solo di Bojonegoro menunjukan angka 15.04 peilschal pada pukul 09.00 WIB pagi tadi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro sudah memprediksi kondisi ini sebelumnya. Petugas BPBD bersama TNI/Polri dan elemen masyarakat telah melakukan penutupan doorlat yang dimulai di kawasan Kelurahan Jetak sampai di Jalan Jaksa Agung Kelurahan Banjarjo agar air tidak meluber ke jalan raya.
“Ada 71 pintu dorlat yang sudah kita tutup tengah malam tadi,” kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD, MZ Budi Mulyono dikonfirmasi terpisah.
BPBD Bojonegoro memprediksi debit sungai Bengawan Solo akan terus naik. Karena sampai saat ini sejumlah wilayah di daerah hulu masih siaga merah, dan intensitas hujan lebat masih terjadi sehingga menyumbang debit air.
Selain itu ditambah lagi intensitas hujan lokal yang terjadi menjadikan anak-anak sungai bengawan solo meluap. Karena ketika sungai terpanjang di Pulau Jawa itu dalam kondisi tinggi, maka secara otomatis anak anak sungai ini mengalami hambatan untuk mengalir.
Semakin besarnya banjir ini membuat sebagian warga sudah mengungsi. BPBD Bojonegoro bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) telah menyiapkan lokasi pengungsian dan mengoperasikan dapur umum untuk pengungsi.
“Kita juga sedikan posko kesehatan untuk menangani korban yang membutuhkan,” pungkas Budi Mulyo.(suko)
 Berikut data sejumlah daerah terdampak :
Kecamatan Balen
Desa Sarirejo, Kedungdowo, Sekaran, Kedungbondo, Mulyoagung, Mulyorejo, Pilanggede, Lengkong dan Prambatan.
Kecamatan Trucuk
Desa Kandangan, Sumbangtimun, Guyangan, Trucuk, Mori, Tulungrejo, Padang, Kanten, Banjarsari, Sranak, Sumberjo, Pagerwesi, Sukoharjo.
Kecamatan Kapas
Desa Ngampel, Kalianyar, Bogo, Sambiroto , Bakalan, Tikusan.
Kecamatan Dander
Desa Ngablak dan Ngulanan.
Kecamatan Bojonegoro
Desa Semanding, Kalirejo, Mulyoagung, Campurejo, Jetak, Ledokwetan, Kauman, Banjarjo, Ledokkulon, Klangon.
Kecamatan Kanor
Desa Piyak, Cang’an, Tejo, Pilang, Prigi, Kabalan, Kanor, Tambahrejo, Semambung, Simbatan.
Kecamatan Baureno
Desa Pucangarum,Kadungrejo, Lebaksari, Tanggungan, Kalisari, Kauman, Karangdayu, Pomahan, Gunungsari, Gajah, Tulungagung, Bumiayu, Trojalu, Sembunglor, Sraturejo, Sumuragung, Tlogoagung, Pasinan.
Kecamatan Kalitidu
Desa Sukoharjo, Mojosari, Pilangsari, Mayangrejo, Mojo, Leran, Panjunan, Mlaten, Brenggolo, Pungpungan dan Ngringinrejo.
Kecamatan Malo
Desa Dukuhlor, Kemiri, Ngujung, Semlaran, Tanggir, Tulungagung, Malo, Trembes, Sudah, Kacangan, Kliteh, Petak dan Rendeng.
Kecamatan Padangan
Desa Tebon, Prangi, Dengok, Kuncen, Nguken, Sidorejo, Banjarejo, Purworejo dan Kebonagung.
Kecamatan Purwosari
Desa Purwosari
Kecamatan Kasiman
Desa Betet dan Batokan.
Kecamatan Gayam
Desa Beged, Ngraho, Sudu, Cengungklung, Manukan, Begadon dan Katur.
Kecamatan Sumberejo
Desa Sumuragung
Kecamatan Ngarho
Desa Mojorejo.