SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Banjir Bengawan Solo yang menerjang Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sejak tiga hari lalu mulai surut. Namun bencana tahunan ini selain menyisakan kerugian materiil cukup besar yakni mencapai Rp30.180.200.00, juga mengakibatkan satu orang meninggal di Desa Lengkong, Kecamatan Balen.
Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro pada Jumat 2 Desember 2016 kemarin, kerugian terbesar akibat bencana ini adalah terendamnya lahan pertanian padi yang mencapai 4.228 hektar (Ha) yang tersebar di 65 Desa di 9 Kecamatan yang meliputi Bojonegoro, Kalitidu, Dander, Trucuk, Kapas, Balen, Sumberejo, Kanor, dan Baurno. Rata-rata ketinggian air antara 10 centi meter (cm) hingga 100 cm.
Kemudian kerusakan lahan sawah seluas 759 Ha, Polowiji 105 Ha, pekarang 67 Ha, dan lahan tegalan 49 Ha. Rumah yang tergenang mencapai 7.100 kepala keluarga (KK) dan yang mengungsi sebanyak 1.101 jiwa. Selain itu jumlah ternak yang diungsikan mencapai 686 ekor.
Banjir juga merendam fasilitas umum yakni sembilan Taman Kanak-kanak (TK), tujuh sekolah dasar (SD), tiga SMP, satu SMA, enam masjid, dan 2 musala. Selain itu juga 58.065 meter jalan desa, 28.580 meter jalan lingkungan, dan 52 jembatan. Â Â
“Sampai tanggal 2 Desember kemarin, kerugiannya 30.180.200.000 rupiah,†kata Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Andik Sujadrwo kepada suarabanyuurip.com di sela-sela penyerahan bantuan korban banjir dari SKK Migas – KKKS, Jumat kemarin.
Dari 65 desa terdapampak banjir, kerugian paling besar terjadi di wilayah Kecamatan Balen. Dua desa di wilayah mengalami kerugian paling besar yakni Desa Sarirejo, dan Mulyorejo.
Di Desa Sarirejo kerugiannya mencapai Rp6.752.000.000. Meliputi rumah tergenang sebanyak 550 KK, padi seluas 240 Ha, palawija 8 Ha, ternak satu ekor, dua TK, satu SD, satu SMP, satu SMA, 4.300 jalan desa, dan 2.300 jalan lingkungan.
Sedangkan di Desa Mulyorejo total kerugiannya mencapai Rp5.840.000.000. Meliputi rumah tergenang sejumlah 490 KK, padi 205 Ha, polowijo 25 Ha, jalan desa 2.500 meter, dan jalan lingkungan sepanjang 1.600 meter.
Sementara kerugian terbesar ketiga akibat banjir terjadi di Desa Ngablak, Kecamatan Dander, mencapai Rp4.209.200.000. Meliputi rumah tergenang sebanyak 750 KK, sawah 125 Ha, padi 175 Ha, polowijo 5 Ha, pekarangan 44 Ha, ternak 90 ekor, 6 TK, 4 musala, dan 4.000 meter jalan poros desa.
Dari pantauan suarabanyuurip.com, saat ini sebagian warga terdampak telah kembali dari pengungsian dan membersihkan rumah mereka dari lumpur sisa banjir.(suko)