SuaraBanyuurip.com –Â Ririn Wedia
Bojonegoro – Dampak banjir Sungai Bengawan Solo yang menggenangi sejumlah wilayah di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tentu sangat terasa. Karena harus menelan kerugian diperkirakan total mencapai Rp 30,4 miliar. Mulai dari kerusakan sawah, rumah dan fasilitas umum.
Beberapa tanaman pertanian seperti padi yang tergenangi air rusak. Karena batang, daun maupun buah padi membusuk dan kering. Hal ini membuat para petani banyak yang mengalami gagal panen. Salah satunya petani di Desa Semanding, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.Â
Kurang lebih seluas 219 hektar lahan pertanian terendam air setinggi 50 sampai 60 centimeter. Luasan lahan pertanian yang terendam itu hanya yang tergabung dalam kelompok tani. Diperkirakan masih banyak lahan pertanian terendam yang tidak terdata.
Menurut Ketua Kelompok Tani, Karya Tani 2 Desa Semanding, Suwito (59), di Desa Semanding yang gabung di kelompok tani ada lahan pertanian seluas 97 hektar. Dari jumlah tersebut sedikitnya ada 30 hektar lahan pertanian yang tergenang.
Lahan pertanian yang tergenang itu rata-rata tanaman padi. Dengan berusia 50 sampai 60 hari kondisinya membusuk dan kering.
“Padahal 20 hari lagi seharusnya panen. Sebelah selatan padinya malah sudah menguning,” katanya, Selasa (6/12/2016).
Suwito menambahkan, pun jika masih ada petani yang memanen padinya, dipastikan hasilnya tidak bisa maksimal dan harganya turun.
“Jika masih ada yang dipanen harga dan kualitasnya jelas berkurang. Karena bekas banjir,” jelasnya.
Dari beberapa lahan pertanian yang terendam banjir 60 persen sudah diasuransikan. Sisanya, merupakan lahan pertanian milik warga di luar Desa Semanding.
Asuransi pertanian itu, kata dia, sangat membantu petani jika mengalami gagal panen akibat bencana seperti saat ini.
“Per hektarnya, premi sebesar Rp38 ribu dan mendapat subsidi dari pemerintah menjadi Rp 18 ribu yang dibayarkan setiap musim panen,” ungkapnya.
Sedangkan petani yang mengalami kerugian gagal panen akibat bencana itu bisa melakukan klaim asuransi sebesar Rp 6 juta perhektar.
“Sebanyak 215 petani yang tergabung di kelompok tani belum ada yang mengajukan klaim asuransi,” tambahnya.
Menurut salah seorang petani Desa Semanding, Nurhasyim, sudah sekitar seminggu lahan pertanian terendam air bercampur lumpur. Tinggi genangan mencapai 60 centimeter.
“Perhektarnya kerugian produksi bisa mencapai Rp 3 juta sampai Rp4 juta. Terhitung mulai biaya untuk tenaga traktor, tanam, pupuk dan lain-lain,” jelasnya.
Dia mengaku, belum tahu apakah setelah mengalami gagal panen ini akan mendapat bantuan dari pemerintah daerah. Dia juga mengaku pasrah dengan dampak banjir yang terjadi.Â
“Belum pernah ada sosialisasi tentang akan dibantu benih setelah banjir,” ungkapnya.(rien)