SuaraBanyuurip.com – Samian Sasongko
Bojonegoro – Masyarakat sekitar daerah operasi lapangan minyak dan gas bumi (migas) Jambaran-Tiung Biru (JTB) mandiri dengan usaha batik yang dilakukan. Sebelumnya operator Jambaran-Tiung Biru, Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEP Cepu) telah memberikan bekal keterampilan terhadap mereka untuk mengembangkan bisnis industri batik.
Sebanyak 25 orang dari 5 desa di 3 kecamatan yang ada di sekitar lokasi kini sudah bisa memproduksi batik tradisional yang selama ini telah mereka geluti. Batik yang mereka produksi memiliki ciri khas. Batik yang dominan berwarna kalem itu diproduksi dengan menggunakan pewarnaan alam. Sehingga nuansa alamiahnya sangat kental.
Menurut Public and Government Affair Pertamina EP Cepu, Edy Purnomo, keterampilan bisnis batik yang diberikan kepada masyarakat sekitar lokasi pengeboran migas dari korporasinyaÂ
itu, nantinya diharapkan mereka bisa bersaing di pasar global. Program ini merupakan lanjutan dari pelatihan yang pernah dilakukan PEP Cepu pada 2015 lalu.
“Jadi, programnya berkelanjutan,” kata Edy.
Selain memberikan bekal keterampilan kepada masyarakat di sekitar wilayah operasi, manajemen PEP Cepu juga berusaha menciptakan pasar dari hasil usaha batik warga ini.
“PEP Cepu selanjutnya akan melakukan pameran yang bisa menjadi ruang bagi kelompok batik ini. Perusahaan juga mewajibkan tamu yang datang memakai batik Jonegoro (Bojonegoro),” tambahnya.Â
Pertamina EP Cepu berharap dengan adanya pelatihan untuk warga sekitar wilayah operasi nantinya akan menciptakan local hero atau tokoh perempuan yang bisa bersaing di tingkatÂ
global. Batik yang memiliki ciri khas pewarnaan alami ini diharapkan menjadi rujukan bagi para pembeli yang akan mencari batik alami.
“Sebelum kegiatan eksplorasi digelar, kita sudah melakukan pelatihan kepada warga sekitar lokasi agar bisa berkompetisi dengan dunia luar. Ke depan jika hasil evaluasi bagus, makaÂ
program ini akan diteruskan di tahun-tahun berikutnya,” ujarnya saat Peluncuran Program Peningkatan Kompetensi Perajin Batik Bojonegoro di Kantor Balai Desa Dologgede, Kecamatan Tambakrejo, Selasa (6/12/2016) kemarin.
Program peningkatan kompetensi perajin batik Bojonegoro ini didampingi Non Government Organization (NGO) lokal dari Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos).
Ketua Ademos, Mohammad Kundori, mengungkapkan, sebanyak 25 perajin batik yang mendapat program pengembangan keterampilan ini berasal dari lima desa sekitar lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB). Kelima desa itu adalah Desa Dologgede dan Desa Kalisumber di Kecamatan Tambakrejo; Desa Kaliombo dan Pelem di Kecamatan Purwosari; serta Desa Bandungrejo di Kecamatan Ngasem.Â
Kegiatan tersebut merupakan manifestasi tanggung jawab sosial PEP Cepu sebagai operator migas yang akan melakukan kegiatan ekplorasi di Lapangan JTB, sehingga masyarakat tidakÂ
hanya bergantung pada pekerjaan yang terkait dengan eksplorasi.
“Rencananya, dalam program ke depan yang akan kita lakukan diklat batik pewarna alam, belajar membikin usaha secara kelompok, diklat pengiatan jaringan pemasaran dan studiÂ
banding,” jelasnya. (sam)