SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Kelangkaan LPG 3 kilogram (kg) atau yang dikenal sebagai gas melon mulai dirasakan warga di wilayah tengah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Selain sulit didapat, harga gas bersubsidi tersebut juga melonjak hingga Rp30 ribu per tabung.
Salah satu warga Ledok Wetan, Kecamatan Bojonegoro Kota, Rahul Oscarra, mengaku telah beberapa hari terakhir kesulitan memperoleh LPG 3 kg, meskipun tinggal di kawasan perkotaan.
“Sekarang susah sekali cari LPG 3 kilo. Kalau pun ada, harganya sudah Rp30 ribu. Saya kemarin dapatnya harus cari ke kelurahan lain, itu pun terbatas,” kata Rahul kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (19/3/2026).
Kondisi tersebut memaksa sebagian warga kembali menggunakan cara tradisional untuk memasak, yakni dengan kayu bakar.
“Bu Lik tadi masak kikil pakai kayu bakar karena gas tidak ada. Sudah lama tidak lihat pemandangan seperti ini sejak tinggal di tengah kota,” imbuhnya.
Rahul juga mempertanyakan kondisi distribusi LPG yang dinilai tidak sesuai dengan pernyataan pemerintah. Sebelumnya, Menteri ESDM menyebut stok LPG aman menjelang Lebaran.
“Kami berharap ada penjelasan dari Pertamina Patra Niaga terkait kelangkaan ini. Soalnya, beberapa waktu lalu sempat disampaikan stok aman, tapi di lapangan justru langka,” tegasnya.
Meski demikian, ia mencoba mengambil sisi positif dari kondisi tersebut. Menurutnya, kelangkaan LPG membuat warga kembali memanfaatkan cara memasak tradisional.
“Memang menyebalkan, tapi ada hikmahnya. Kami jadi kembali ke alam. Semoga masakan lebih sedap dan kondisi segera normal,” tandasnya.
Di lain pihak, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) mengklaim distribusi LPG subsidi 3 kilogram di wilayah Bojonegoro dipastikan tetap berjalan lancar di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Kepastian ini disampaikan menyusul beredarnya informasi pada Selasa (17/3) terkait kelangkaan LPG 3 kg di sejumlah titik di Bojonegoro. Masyarakat dilaporkan mengalami kesulitan mendapatkan gas bersubsidi, dengan stok di pangkalan terbatas dan harga di tingkat pengecer mencapai Rp25 ribu per tabung.
Menanggapi hal tersebut, Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum (APH) langsung melakukan pengecekan lapangan. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari percepatan suplai, ketersediaan stok hingga distribusi di tingkat pangkalan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya memastikan percepatan sulai dan kelancaran distribusi, tetapi juga memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
“Pertamina secara rutin menyalurkan LPG 3 kilogram sesuai kuota yang telah ditetapkan pemerintah. Kami juga melakukan pemantauan distribusi secara berkala untuk memastikan pasokan tetap tersedia bagi masyarakat,” tuturnya.
Sebagai langkah penguatan pengawasan, Pertamina melalui Satuan Tugas Idulfitri (Satgas Rafi) menyiagakan lembaga penyalur selama 24 jam. Tim ini bertugas memantau penyaluran LPG hingga ke tingkat pangkalan, sekaligus memastikan distribusi berjalan sesuai ketentuan, termasuk penerapan harga eceran tertinggi (HET).
Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan selama Maret 2026, Pertamina juga menyalurkan tambahan pasokan melalui mekanisme fakultatif dan ekstradropping sebesar 8 persen atau setara 90.487 tabung LPG 3 kg di wilayah Jawa Timur. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan LPG bersubsidi tetap stabil di masyarakat.
Pertamina kembali mengingatkan bahwa LPG 3 kilogram merupakan energi bersubsidi yang diperuntukkan bagi rumah tangga kurang mampu dan pelaku usaha mikro. Masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih diimbau menggunakan LPG non-subsidi agar distribusi lebih tepat sasaran.
Masyarakat dapat mengakses titik terdekat lokasi pangkalan pada website https://subsiditepatlpg.mypertamina.id/infolpg3kg.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan produk Pertamina, masyarakat dapat memanfaatkan layanan Pertamina Call Center di nomor 135.(fin)




