SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban– Sejumlah petani di Dusun Tuwiwiyan, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur menduga limbah menyerupai minyak yang mempengaruhi produksi padi milik petani setempat berasal dari sumur Gegunung. Dampak limbah tersebut terlihat pada kulit padi yang berubah warna menjadi kecoklatan.
“Pengaruh tersebut mulai terlihat sejak tahun 2014 lalu,†terang petani Tuwiwiyan, Darsin, ketika ditemui di kediamanya yang tidak jauh dengan Lapangan Tawun, Jumat (16/12/2016).
Munculnya limbah tersebut bersamaan dengan maraknya aktivitas penambang tradisional di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan. Tidak adanya tampungan limbah, menjadikan ceceran minyak mengalir ke sungai kecil hingga tiba di sungai Dusun Tuwiwiyan.
Ketika banjir datang dan air tenang, limbah minyak mulai ketara di batang padi. Harapan panen gagal pasti, manakala limbah itu datang saat padi berbunga. Minyak yang masuk ke pori-pori padi langsung menjadikan padi gabuk (tanpa isi).
“Kondisi serupa jika limbah mengenai benih padi (wineh) dipastikan sulit tumbuh,†jelasnya.
Munculnya limbah minyak di sungai, pertama kalinya ditemukan oleh dua petani setempat. Saat diminta laporan ke perangkat desa, keduanya tidak berani. Khawatirnya laporan tersebut menimbulkan gesekan antar petani dan penambang.
Sudah empat tahun lamanya limbah minyak itu terus datang dari hulu. Bagi petani cairan pekat tersebut merusak tanaman, dan merepotkan saat panen. Disamping itu pula, kulit padi yang terkena minyak warnanya berubah kecoklatan. Berbeda dengan padi normal kulitnya kekuningan.
“Saat memotong padi airnya pekat dan sabitnya cepat tumpul,†tukasnya.
Limbah minyak terakhir datang saat dirinya panen bulan November kemarin, saat Lapangan Gegunung telah dikelola PT Tawun Gegunung Energy (TGE) melalui subkontraktornya. Pihaknya tidak menuntut apapun, hanya saja segera ada tindak lanjut supaya pencemaran lingkungan tidak terulang kembali.
Petani lainnya, Salikun, membenarkan adanya limbah minyak saat banjir mempengaruhi hasil panen masyarakat. Kebetulan sawahnya tidak berada di tepi sungai, sehingga hasil panennya normal.
Melihat kondisi yang dialami petani lainnya, pihaknya berharap segera ada tindak lanjut dari pihak terkait. Supaya apa yang menjadi ancaman petani Kumpulrejo, sedini mungkin dapat dicegah.
Sementara, salah satu petugas keamanan di Lapangan Gegunung, Angga membenarkan apabila bulan November sampai Desember 2016 kemarin ada ceceran minyak yang mengalir ke Sungai. Disinggung sumur milik siapa yang mengeluarkan minyak, dan mengalir ke Sungai pihaknya belum dapat menjelaskan.
“Hanya saja sudah lima kali beberapa sumur meledak, dan minyaknya mengalir ke sungai,†pungkasnya. (Aim)