SuaraBanyuurip.com - Ali Imron
Tuban – Salah satu sumur tua yang berada di Lapangan Tawun Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur kini mulai ditinggalkan pemiliknya. Berkurangnya cadangan minyak menjadi pemicu penambang, maupun perengkek tidak beraktivitas setiap harinya.
“Saat ini sudah berkurang minyaknya sehingga paling cepat sepekan baru ada yang ambil “lentung” atau minyak mentah,” kata seorang warga Dusun Tuwiwiyan, Desa Kumpulrejo, Darsin, kepada suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi di kediamannya, Jumat (16/12/2016) kemarin.
Menurut warga, sumur tua yang dikelola pemodal dari luar Desa Kumpulrejo tersebut dulunya cukup produktif. Sampai terjadi ledakan sekira tahun 2013 silam, cadangan minyaknya mulai surut.
Sumur yang berjarak 1 Kilometer ke arah barat dari pos jaga Perhutani itu, satu-satunya sumur yang dikelola secara tradisional. Untuk sumur tua yang berada di Lapangan Tawun sendiri telah ditertibkan, dan penambang kembali ke profesi petani.
“Warga Kumpulrejo yang dulunya ikut nambang, mayoritas mulai bertani lagi,” imbuhnya.
Pernyataan Darsin dibenarkan salah satu anggota Brimob yang berjaga di pos Perhutani KPH Jatirogo tersebut. Paling cepat ada penambang dan perengkek ke sumur tua seminggu sekali.
Untuk berapa jumlah minyak yang dihasilkan, pihaknya tidak mengetahui secara pasti. Terpenting sudah sedikit jumlahnya, dibandingkan tahun sebelumnya.
“Sudah jarang yang lalu lalang perengkeknya,” jelas anggota Brimob yang enggan disebut identitasnya.
Masih adanya sumur tua yang dikelola warga di Lapangan Tawun juga dibenarkan oleh Field Manager KSO PT Tawun Gegunung Energy (TGE), Ervino. Ketika dikonfirmasi suarabanyuurip.com, di kantornya di Desa Ngrojo, Kecamatan Bangilan, Vino sapaan akrabnya juga tidak mengetahui pasti berapa jumlah minyak yang dihasilkan perharinya.
“Masih ada satu yang dikelola secara tradisional, namun kabarnya sudah sedikit minyaknya,” sambungnya.
Pantauan di lokasi, ternyata benar bahwa sudah tidak ada aktivitas penambang maupun perengkek sumur tua. Suasana di sekitar sumur hening, hanya terlihat sebuah tripot kayu yang masih berdiri kokoh.
Mesin diesel maupun casing sudah karatan, hal tersebut menunjukkan kalau telah lama tidak ada aktivitas. Meskipun demikian, sekitar sumur yang dipagari kawat berduri juga masih tergembok. Sebelahnya tripot masih ada tiga tampungan minyak, sling, dan di sekitarnya ada beberapa tempat istirahat perengkek. (Aim)