SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Diawali dengan menggelar survei ke masyarakat di empat desa, penyelenggara program Gerakan Masyarakat (GeMas) Peduli HIV/AIDS, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Husada (STIKes ICsada) Bojonegoro, Jawa Timur, yang didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan disetujui SKK Migas, kali ini melakukan mini lokakarya I dan II.
Acara yang berlangsung di Balai Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Senin (19/12/2016), begitu mengalir. Puluhan peserta dari berbagai elemen di desa setempat, terutama di sektor kesehatan, mengikuti sejak awal acara sampai berakhir.
Mini lokakarya ini bertujuan untuk memaparkan hasil survei kesehatan masyarakat dan dimulai dari Desa Gayam. Setelah itu dilanjutkan ke Desa Brabowan, Mojodelik dan terakhir di Bonorejo. Semuanya di Kecamatan Gayam.
“Mini lokakarya I dan II ini juga dalam rangka perumusan diagnosa dan intervensi keperawatan komunitas, khususnya pada kasus HIV/AIDS,” kata perwakilan STIKes ICsada Bojonegoro yang juga Ketua Yayasan Dharma Cendekia, Nurul Jariyantin.
Mini lokakarya dimulai dengan serangkaian pandangan dari pihak desa dan juga Kampus Ungu, sebutan akrab STIKes ICsada Bojonegoro. Setelah itu dilanjutkan dengan pemaparan hasil survei sekaligus diagnosa keperawatan oleh Ns. Zaenal. S. Kep. Sembilan diagnosa berhasil dirumuskan dan disepakati dengan satu point klarifikasi, yaitu tentang akses air bersih.Â
“Masalah utama yang muncul adalah kurangnya pemahaman masyarakat tentang penyakit TBC dan HIV/AIDs yang disebabkan oleh berbagai faktor,” tegasnya.
Selaku perwakilan dari STIKes ICsada, Bu NJ, sapaan karibnya berharap, program GeMas Peduli HIV/AIDS dapat berjalan dengan baik dan membantu pemerintah dalam menuntaskan masalah terkait HIV/AIDS. Kerjasama yang baik antara Kampus Ungu, SKK Migas-EMCL, Puskesmas, Pemdes, bidan desa hingga kades kesehatan setempat, akan sangat membantu tugas besar MDGs 2015 .
Sementara itu, perwakilan dari Kader Desa Gayam, Puji, menganggap bahwa kegiatan ini sangat istimewa dan ada yang spesial dari Kampus Ungu.
“Selama di proses awal ini, kita sudah mendapatkan yang luar biasa. Jadi, kita sebagai warga harus bisa menjadi tetangga yang baik bagi Kampus Ungu,” terang Puji.
Sementara itu, peserta sejak awal sudah sangat antusias. Terutama pada saat diskusi kelompok untuk mempertajam pemahaman hasil diagnosa. Dari empat kelompok yang ada, hampir semua mampu menyajikan hasil diskusi dengan cukup baik.
Beberapa hal yang menarik, diantaranya wawasan tentang tata cara memandikan jenazah yang aman dan perlunya dukungan serta peran karang taruna agar lebih optimal.(suko)