Sebut Gas J-TB Relatif Beracun

Firman Arif PEPC

SuaraBanyuurip.com - Samian Sasongko

Bojonegoro – Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) menyebut jika kandungan hidrogen sulfida (H2S) dan karbon dioksida (Co2) gas J-TB cukup tinggi sehingga diperlukan waktu untuk membersihkannya lebih dahulu sebelum dijual.

“Gas J-TB relatif beracun. Karena itu tidak mudah menjualnya,” kata Senior Project Manajer PEPC, Firman Arif saat memberikan pemaparan di acara lokakarya bersama wartawan Bojonegoro, Jawa Timur, di Lamongan, Selasa (20/12/2016).

Dalam proyek J-TB, lanjut dia, terdapat tiga paket pekerjaan yang dilakukan. Pertama pekerjaan sipil (Early Civil Work/ECW). Kedua rekayasa, pengadaan, dan konstruksi fasilitas pemrosesan gas (Engineering Procurement and Construction Gas Processing Facility/EPC GPF). Ketiga pemboran (Drilling).

“Untuk ECW terus dilakukan persiapan pengerjaan, GPF masih proses tender, dan untuk drillingnya direncanakan akan dilakukan pada tahun 2018 mendatang,” jelasnya.

Proyek J-TB diperkirakan membutuhkan tenaga kerja (Naker) sebanyak sekira 4000 naker. Kebutuhan naker ini akan dikoordinasikan dengan Dinas Tenaga Kerja Transmigrsi dan Sosial (Disnakertransos) Bojonegoro.

“Tentu kita akan mengutamakan warga lokal sesuai dengan keahlihannya,” tegasnya.

Baca Juga :   Tri Harmawan : TWU Beroperasi dengan Perijinan yang Lengkap

Saat ini project ECW sedang dikerjakan PT Pembangunan Perumahan (PP). “Sudah sejak awal tahun 2016 lalu mulai,” sambung Public and Government Affair Manager PEPC, Abdul Malik. (sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *