SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho
Bojonegoro – Kinerja hulu migas tanah air meraih capaian cukup baik hingga akhir tahun 2016. Dari target lifting yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 820 ribu barel per hari (BPH), terealisasi 830 ribu BPH.
“Ada peningkatan 10 ribu barel dari target. Ini prestasi cukup bagus,” kata Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Jaba Bali dan Nusa Tenggara (SKK Migas Jabanusa), Ali Masyar saat silaturahmi dan sosialisasi bersama sejumlah media Bojonegoro, Jawa Timur, di salah satu resturan, Rabu (21/12/2016) malam.
Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ), Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) dan Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.
Dari produksi nasional yang dicapai tersebut 30 persennya berasal dari Jabanusa, khususnya wilayah Jawa Timur. Terbesar disumbang dari produksi Lapangan Banyuurip, Blok Cepu, di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Dengan produksi hariannya mencapai 185 ribu barel.
“Sekitar 249 ribu barel per hari dari Jabanusa,” ucap mantan pejabat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu.
Produksi minyak di Jabanusa ini menjadi salah satu tumpuan pemerintah untuk memenuhi target lifting nasional.
“Untuk itu semua pihak harus bersama-sama menjaga dan mendukung agar kegiatan hulu migas di sini berjalan. Karena kalau sampai terkendala, produksi nasional bisa kolap,” tutur Ali.
Meski saat ini produksi di atas target yang ditetapkan, Ali mengingatkan jika Indonesia sekarang telah menjadi negara importir minyak. Hal ini disebabkan antara produksi dan kebutuhan minyak tidak seimbang.
Dimana tingkat konsumsi minyak mencapai 1,5 juta bph, sedangkan produksi yang dihasilkan sebesar 830 bph. Sehingga ada kekurangan hampir separo dari produksi yang dihasilkan.
“Kekurangan itu dicukupi dari import,” tegasnya.
Sekarang ini pemerintah terus mendorong KKKS untuk memacu produksinya. Selain itu juga menawarkan sejumlah wilayah kerja pertambangan (WKP) kepada investor agar bersedia melakukan eksplorasi dan mencari cadangan-cadangan baru.
“Kalau tidak, 10 atau 12 tahun lagi cadangan minyak kita akan habis. Tapi untuk melakukan itu semua kita harus menjaga iklim investasi yang kondunsif,” pesan Ali.
Perwakilan EMCL, Dave A Seta dalam paparannya menyampaikan, berdasarkan evaluasi terbaru yang dilakukan cadangan minyak di Lapangan Banyuurip sebanyak 600 juta barel. Jumlah tersebut meningkat dari evalusasi sebelumnya sebesar 450 juta barel.
“Produksi sekarang ini bisa sampai 200 ribu barel. Karena akan ditunjang dari Lapangan Kedungkeris. Untuk meningkatkannya kami masih menunggu persetujuan perubahan amdal,” katanya.
Dari produksi Banyuurip tersebut sudah dilakukan lifting sebanyak 126 kali. Hingga saat ini EMCL telah menyumbangkan negara sebesar Rp4 miliar per tahunnya, bila harga minyak  40 – 50 dollar/barel.(suko)