SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Proyek pembangunan tanggul Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, masih terkendala lahan. Dari 25 kilo meter (Km) panjang tanggul di wilayah setempat, sampai akhir tahun 2016, baru 7 Km dibebaskan. Pemkab setempat menargetkan sisa lahan yang belum dibebaskan tersebut selesai hingga akhir Januari 2017.
“Entah bagaimana caranya sisa lahan yang belum dibebaskan harus clear,” kata Wabup Tuban, Noor Nahar Hussein, kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (7/1/2017).
Noor Nahar mempertanyakan kenapa pembebasan lahan untuk pembuatan tanggul antisipasi banjir yang dilakukan sejak tahun 2015 itu tidak kunjung selesai. Padahal harga yang ditawarkan kepada pemilik lahan di atas harga beli pada umumnya.
Dalam waktu sebulan tim pembebasan lahan ditugaskan untuk mempercepat pembebasan lahan. Mengingat rencana pengerjaan fisik tanggul oleh Kementerian Pekerjaan Umum, dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air untuk wilayah Bengawan Solo dimulai bulan Pebruari 2017.
“Entah apa kendala detailnya tim, namun pembebasan lahannya setahun terakhir sangat lamban,” imbuh pria kelahiran Kecamatan Rengel ini.
Proyek pembangunan tanggul tersebut seluruhnya dibiayai APBN senilai Rp 15 miliar. Sedangkan untuk pembasan lahannya ditanggung APBD Tuban, dan APBD Provinsi Jatim kurang lebih Rp 11,5 miliar.
Sekedar diketahui, rencana pembangunan tanggul Bengawan Solo sepanjang 25 kilometer ini dibangun dari pinggir sungai di perbatasan Tuban hingga Bojonegoro. Sesuai peta proyek ini melewati dua kecamatan dan 11 desa, yakni Kecamatan Rengel di Desa Sumberejo, Kanorejo, Tambakrejo, Ngadirejo, dan Karangtinoto.Â
Sedangkan, di Kecamatan Soko, terdapat enam desa mulai Desa Glagahsari, Simorejo, Sokosari, dan Rahayu yang berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro. (Aim)