Februari, 1.300 Petani Terima Ganti Rugi

lahan kilang tuban

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban – Tidak kurang 1.300 petani dari Desa Mentoso, Rawasan, Wadung, Remen, dan Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dijadwalkan menerima ganti rugi tanam yang menempati lahan Kilang Tuban pada Februari 2017 mendatang.

“Rencana awal bulan Februari diberikan, namun akan dikoordinasikan lagi bersama Pertamina,” ujar Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Jenu, Suwoto, kepada suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi melalui sambungan teleponnya, Senin (23/1/2017).

Hanya saja dia mengaku belum mengetahui besaran ganti rugi atau tali asih tanam dari Pertamina. “Besok Muspika akan mengadakan rapat internal dengan lima kepala desa untuk menyeragamkan bahasa,” imbuh Suwoto panjang lebar.

Pria ramah ini berharap besar, beroperasinya kilang kerjasama Pertamina dengan perusahaan minyak dan gas bumi (Migas) asal Rusia, Rosneft Oil Company mendatangkan manfaat bagi sekitar. Utamanya penyerapan tenaga kerja, maupun pemberdayaan masyarakat.

Pimpinan desa dan karang taruna harus sevisi dengan Muspika Jenu. Intinya proyek kilang internasional tersebut, harus didukung dari berbagai aspek. Ditegaskan pula, perangkat desa atupun pemuda harus menangkap peluang ataupun jemput bola.

Baca Juga :   Pengusaha Lokal Ring 1 Blok Cepu Jalin Silaturahmi dengan Muspika Gayam

 “Jika minta ada pelatihan dapat disampaikan ke Pertamina nanti dikerjasamakan dengan BLKI Tuban,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi pada pada sosialiasi Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) kilang yang beroperasi di lahan seluas 404 hektar beberapa waktu lalu menegaskan, ganti rugi tanaman diberikan dengan hitungan senilai dua kali hasil panen tanaman.

Ditambah tambahan sangu dengan hitungan satu kali panen, untuk persiapan alih profesi kepada petani. Untuk teknis pemberiannya apakah bertahap ataupun sekaligus juga belum dibicarakan.

Sebagaimana diketahui, bertahun-tahun di era sebelum tahun 1990 lahan di lima desa telah dibebaskan pemerintah untuk proyek Wood Centre. Setelah sekian tahun tak digarap, lahan seluas 340 hektar tersebut digarap petani untuk ladang.

“Kami kerja dengan hati nurani, semuanya untuk daulat energy,” ujar Rachmad Hardadi waktu itu.

Pertamina juga menyiapkan program tanggungjawab sosial persuahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) untuk petani penggarap. Program sosial kemasyarakatan ini diberikan agar warga terdampak bisa lebih mandiri. Apalagi setelah ladang yang selama ini menjadi gantungan hidup, telah diambil pemerintah untuk kilang. (aim)

Baca Juga :   FKM Sapu Lidi Minta Dukungan Pemkab

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *