SuaraBanyuurip.com -Â Ahmad Sampurno
Blora – Randahnya harga gabah, khususnya di wilayah selatan Kabupaten  Blora, Jawa Tengah, menjadikan problema petani setiap datangnya musim panen. Pasalnya, harga dipastikan terus mengalami penurunan hingga akhir masa panen.
Firman (31), petani Desa Pulo, Kecamatan Kedungtuban, menyatakan, harga gabah saat ini kisaran Rp. 3.500 per kilio gram (kg). Menurutnya, harga tersebut tergolong rendah, karena tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk pengolahan lahan hingga tanam. Sehingga membuat keuntungan yang didapat petani minim.
“Untuk biaya produksi satu hektar sawah, rata-rata mencapai Rp7 juta. Bahkan bisa lebih. Jadi kalau harga gabah cuman segitu ya petaninya yang kalah,” kata Firman, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (24/1/2017).
Pihaknya merasa curiga dengan para tengkulak yang sengaja mempermainkan harga gabah dari kalangan petani. Karena ada perbedaan harga antara petani lokal dan petani dari luar. “Biasanya harga dari tengkulak luar lebih mahal,†jelasnya.
Rendahnya harga gabah dari tengkulak, kata dia, untuk musim ini hanya menjual separuh dari hasil panen yang didapat. “Sisanya kami bawa pulang,†terangnya.
Kondisi tersebut masih diperparah dengan hasil produksi petani pada musim ini tak maksimal. Karena produksi cenderung menurun. Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan menurunnya produksi yang diperoleh. Diantaranya cuaca yang cukup ekstrim yang memicu munculnya penyakit. Seperti kresek karena tanah tidak pernah istirahat.
“Kemudian juga hama wereng yang menyerang beberapa waktu lalu,†ungkapnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh petani lain, Kurmen (57). Menurutnya memang ada perbedaan harga pembelian gabah yang dilakukan oleh tengkulak. Padahal masih dalam satu Kecamatan Kedungtuban.
“Kalau di Desa Ngraho harganya Rp3.600, tapi kenapa di Desa Pulo harganya hanya Rp3.500. Kalau seperti ini bolak balik ya petani lagi jadi korban,†keluhnya.
Dia berharap, agar pemerintah segera turun tangan untuk menaikkan harga gabah petani, dan memberikan tekanan para tengkulak agar tidak mempermainkan harga gabah petani.
“Semoga saja segera ada tindakan nyata dari pemerintah. Sehingga kesejahteraan petani terjamin dan swasembada pangan yang diinginkan pemerintah juga terwujud,†ucapnya.
Sementara, Kepala UPT Dinas Pertanian Kecamatan Kedungtuban, Suparman, mengakui adanya penurunan harga gabah petani. Hal itu menurutnya, selalu terjadi berulang-ulang dan akan terus mengalami penurunan sampai akhir masa panen. (ams)