SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pengalaman pahit yang dialami kontraktor lokal Bojonegoro, Jawa Timur, saat mengerjakan proyek minyak Banyuurip, Blok Cepu, harus menjadi pembelajaran yang berharga. Jangan sampai pengalaman buruk itu terulang lagi di proyek Unitisasi Lapangan Gas Jambaran – Tiung Biru (J-TB).
Pesan itu disampaikan Asisten II Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Bojonegoro, Setyo Yuliono saat menghadiri Musyawarah Cabang (Muscab) I Asosiasi Kontraktor Nasional (Askonas) Jatim, serta deklarasi gerakan masyarakat peduli beli produk dalam negeri di Hotel Aston Bojonegoro, Rabu (25/1/2017).
Setyo Yuliono mengingatkan kepada kontraktor lokal Bojonegoro yang tergabung dalam Askonas bersatu dalam menangkap peluang usaha di proyek gas JTB yang akan dimulai dua bulan lagi.
“Jangan sampai apa yang terjadi pada kontraktor lokal di Blok Cepu kembali terulang pada mega proyek Jambaran-Tiung Biru yang akan dimulai Maret nanti,†ujar Nanang – sapaan akrab Setyo Yuliono.Â
Mantan Camat Gayam itu mengungkapkan, pada kegiatan proyek engineering, procurement and construction (EPC) 1, 2, dan 5 Banyuurip, Blok Cepu, kondisi di Bojonegoro sungguh tidak terkendali. Semua kontraktor lokal saling berebut untuk mendapatkan pekerjaan, meski dengan teman sendiri.Â
“Ternyata saat totalan di belakang, sebagian kecil untung, sebagian besar buntung alias merugi,” imbuh Nanang.
Dirinya berharap dengan adanya Askonas di Bojonegoro ini tidak menjadi sebuah masalah, tetapi sebagai solusi. Artinya tidak menjadi peminta, tetapi memberi.
“Sehingga semua bisa berjalan dengan baik menjelang industrialisasi migas ini,†ucapnya.Â
Nanang menambahkan, dalam waktu dekat pemerintah kabupaten dan BUMD akan rapat bersama dengan Pertamina EP Cepu untuk menjelaskan tentang pemenang tender EPC Gas Processing Facility (GPF) J-TB.
“Minggu dekpan kita akan membahas itu,” tandasnya.Â
Sementara itu, Ketua DPP Askosnas, Rahmatullah meminta kepada semua kontraktor untuk siap bersaing di era globalisasi sekarang ini. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi persaingan antar negara.Â
“Apalagi pertubuhan ekonomi di Jawa Timur ini mulai meningkat, terlebih di daerah berpenghasilan migas, seperti Bojonegoro, Tuban, Blora, dan Lamongan,†sambungnya.
Di Kabupaten Tuban, misalnya, lanjut dia, dalam waktu dekat akan dibangun kilang berkapasitas besar. Di sekitar kilang, akan ada perumahan yang dibangun dengan harga diatas rata-rata.Â
“Nanti, mau tidak mau pasti terintegrasi dengan Bojonegoro dan sebagian Lamongan,” ujarnya.
Pihaknya mengingatkan kepada anggota Askosnas untuk tidak sekedar membangun tetapi juga memperhatikan tata ruang kota dan wilayah. Karena jika tidak, akan berpengaruh pada lingkungan.Â
“Kita berharap mampu berkontribusi dalam pembangunan di jawa Timur. Jadi untuk Bojonegoro harus bisa memberi solusi, bukan menuntut,” pesanya. (rien)