SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Operator Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB PPEJ) bersama Badan SAR Nasional (Basarnas) Surabaya, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban, Jawa Timur mengadakan kegiatan peningkatan kapasitas satuan petugas penanggulangan bencana (Satgas PB) kegagalan teknologi industri. Acara yang berlangsung sejak tanggal 24 hingga 27 Januari 2017 tersebut melibatkan 60 orang peserta.
“Hari pertama diadakan pembekalan materi dan praktik lapangan vertical rescue di kantor Basarnas Surabaya,†ujar Kepala BPBD Tuban, Joko Ludiono, kepada suarabanyuurip.com, Selasa (24/1/2017) kemarin.
Pada hari kedua, peserta langsung praktik lapangan water rescue di sungai Songa, Probolinggo. Sedangkan hari terakhir ditutup dengan latihan fisik peserta di Gunung Bromo.
Joko menjelaskan, secara geografis, klimatologis, dan hidrologis wilayah Tuban memiliki potensi ancaman bencana yang cukup besar. Hal ini berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang dilakukan BNPB pada tahun 2013.
“Nilai indeks risiko bencana untuk Tuban mencapai skor 175,†Imbuhnya.
Nilai tersebut termasuk klas risiko bencana tinggi. Tuban menempati urutan 145 dari 496 kabupaten/kota se-Indonesia yang rawan atas risiko bencana. Apalagi saat ini marak industri skala Nasional dan Internasional menjadikan Tuban berpotensi terjadi bencana kegagalan teknologi industri.
Mulai JOB PPEJ, PT TPPI, PT Semen Indonesia, PT Holchim, PLTU Tanjung Awar Awar dan ditambah Kilang Tuban. Hal ini tentu banyak manfaat dari sisi peningkatan ekonomi. Sebaliknya perlu diwaspadai dampak negatif dari kegiatan operasi produksi.
Dijelaskan pula, kegagalan teknologi dan dampak industri salah satu ancaman bencana yang diakibatkan faktor non alam. Bisa berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi maupun wabah penyakit.
Potensi ancaman bencana semcam itu dapat dikurangi dengan meningkatkan pemahaman masyarakat di sekitar industri. Tujuannya menyadarkan masyarakat supaya mengetahui harus berbuat apa, apabila terjadi kondisi darurat akibat kegiatan operasi.
Sementara, Staf Health Safety Environmental (HSE) JOB PPEJ, Hendra Awali Putra menambahkan, kegiatan peningkatan kapasitas Satgas PB kegagalan teknologi industri ini juga diikuti dari internal perusahaan sebanyak 11 orang. Terdiri dari staf HSE dan Humas JOB PPEJ.
“Kami di sini dilatih melakukan penyelamatan kepada korban, kalau terjadi keadaan darurat atau kegagalan teknologi industri di perusahaan dan masyarakat sekitar lokasi perusahaan,” ucapnya.
Ditambahkan pula, kegiatan kali ini merupakan rangkaian acara yang ketiga, di mana sebelumnya telah dilakukan pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana), dan simulasi TTX. (Aim)