Nilai Zero Gas Bisa Kurangi Dampak Lingkungan

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban – Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, menilai rencana operator Migas Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina Easta Java (JOB P-PEJ)  menjadikan Lapangan Mudi zero gas lebih baik. Karena akan dapat mengurangi dampak suara bising dari pembakaran gas flare di Central Processing Area (CPA) Pad A di Desa Rahayu, Kecamatan Soko.

“Jika rencana zero gas ini berhasil itu sangat baik,” ujar Sekretaris Dinas LH Tuban, Bambang Irawan, kepada suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi melalui teleponnya, Senin (13/2/2017).

Diakuinya rencana ini sangat inovatif, namun oprator JOB P-PEJ belum memberikan informasi tersebut ke instansinya. Bambang baru mendengar informasi ini ketika dikonfirmasi wartawan suarabanyuurip.com.

Pantauannya, suara pembakaran gas flare di CPA Mudi selama ini cukup mengganggu kenyamanan warga sekitar. Harapannya setelah sisa gas produksi dari Lapangan Sukowati, Bojonegoro, dan Lapangan Mudi diserap oleh PT Gassuma, secara perlahan dapat mengurangi dampak lingkungan.

“Selama ini warga banyak yang mengeluhkan suara pembakaran gas falre di Pad A,” imbuh Bambang panjang lebar.

Baca Juga :   DBH Migas Bojonegoro Tembus Rp1,94 Triliun, Penyaluran Capai 100 Persen

Dalam hal ini, operator bekerjasama dengan PT Gassuma akan melakukan modifikasi dan inovasi lagi. Agar gas buang (flare) yang masih tersisa sekitar 2 MMSCFD bisa menjadi zero, sebagai bagian dari target pencapaian PROPER Hijau tahun 2017 ini.

General Manager JOB P-PEJ, Akbarsyah, mengakui tidak mudah untuk mencapai zero gas flare. Problem utamanya  sisa gas buang yang kini ada punya tekanan sangat rendah, yakni sekitar 2 Psi.

Gas buang yang ada itu adalah sisa gas yang dimanfaatkan JOB PPEJ, berasal dari gas yang diproses melalui Sulphur Recovery Unit (SRU) guna mendapat gas kering bersih (dry gas). Untuk bahan bakar generator pembangkit listrik internal.

”Butuh kompresor yang mampu memproses gas buang yang tekanannya tinggal sekitar 2 Psi untuk kemudian menaikkan tekanannya menjadi sekitar 65 Psi agar bisa diserap oleh Gasuma,” jelasnya.

Secara teoritis hal itu bisa dilakukan dengan penyediaan kompresor yang tepat. Dilain sisi upaya tersebut berpotensi menimbulkan dampak terhadap fasilitas SRU, karena ada efek vakum / hisap dari kompresor.

“Problem teknis ini yang sekarang sedang kami diskusikan bersama dengan tim teknis dari Gasuma,” bebernya.

Baca Juga :   Pendidikan Serap Rp13 M DBH Migas 2013

Pada tahap awal, sisa gas flare dari Lapangan Mudi dan Sukowati yang besarnya sekitar 3–4 MMSCFD (juta kaki kubik per hari), sudah bisa dikurangi 0,8 MMSCFD dari lapangan Mudi. Gas sebesar 0,8 MMscfd itu kini digunakan sebagai tambahan pasokan gas (feed gas) ke PT Gasuma selaku pembeli gas buang.

Hal itu terjadi setelah JOB P-PEJ bisa memodifikasi dan memasang pipa penghubung (jumper line) di salah satu fasilitas pemrosesan gas. Yakni dari separator PV-9700 (Mudi), ke gas scrubber PV-3700 yang sudah diturunkan tekanannya untuk disesuaikan dengan tekanan separator. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *