Minta Tingkatkan Aspek Pelayanan Kesehatan

Sekda Soehadi Moeljono

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur meminta kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di bidang kesehatan meningkatkan pelayanannya. Ada empat aspek dalam memberikan peningkatan mutu layanan kesehatan yang harus diberikan.

Aspek tersebut mulai dari infrastruktur, manajeman, kualitas layanan dan Sumber Daya Manusia (SDM).

Oleh karena itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bojonegoro, Soehadi Moelyono, memerintahkan kepada Kepala UPT untuk mengidentifikasi setiap masalah diwilayah masing-masing sekaligus solusi yang akan dilakukan baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

Sekda menegaskan, Rumah Sakit  (RS) Sosodoro RS Padangan dan RS Sumberejo ditahun 2017 ini harus selesai baik kelengkapan, sarana prasarana pendukung, SDM bahkan RS Jiwa yang direncanakan di Bojonegoro harus diperhatikan.

“Kepada para Pimpinan SKPD untuk mendukung dan membantu dalam upaya peningkatan kualitas layanan sehingga akan semakin cepat dalam memberikan layanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sunhadi menyampaikan jika peningkatan derajat kesehatan masyarakat di pengaruhi oleh beberapa hal. Diantaranya faktor lingkungan yang mencapai 45 persen, perilaku diangka 35 persen dan 15 persen adalah layanan kesehatan.

Baca Juga :   Menjawab Tantangan Kesehatan Masyarakat

“Angka Kematian Ibu di Bojonegoro ditahun 2015 dan 2016 sejumlah 23 kasus dan ditahun 2017 sampai januari diangka 0,” imbuhnya.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu yakni Bulan Januari 2016 lalu Angka Kematian Ibu (AKI) di Bojonegoro terdapat 6 kasus. Kematian ibu, menurut dr Sunhadi, dipengaruhi oleh beberapa hal yakni Ibu hamil dibawah usia 20 tahun yang masih tinggi, kemudian Pasangan Usia Subur (PUS) yang beresiko tinggi juga masih tinggi yakni usia dibawah 20 tahun ataukah usia diatas 35 tahun serta yang ketiga adalah penyakit penyerta.

“Ditahun lalu ibu hamil yang menderita penyakit jantung 10 orang dan 5 diantaranya harus meninggal dunia,” tandasnya.

Data yang ada dari 19.521 ibu hamil di Bojonegoro 14.489 diantaranya adalah masuk dalam ibu hamil resiko tinggi (risti). Sedangkan 613 adalah ibu hamil diusia kurang dari 18 tahun dan 1915 ibu hamil diusia diatas 35 tahun.

Hal lain yakni Kematian Bayi ditahun 2016 karena BBLR ( Bayi lahir dengan kondisi berat badan yang rendah ) yang kasusnya mencaai 112 bayi dengan usia kehamilan 32 minggu dan berat bayi dibawah 500 gram. Menurut Sunhadi hal ini dikarenakan gizi ibu yang rendah dimasa kehamilan.

Baca Juga :   Dukung Program Pemerintah, Kodim Bojonegoro Laksanakan Vaksinasi Tahap Kedua

“Berkaca dari kasus kematian Ibu dan Bayi inilah maka Pemerintah melalui dinas kesehatan melakukan beberapa upaya antara lain dengan pendewasaan usia perkawinan, revitalisasi UKS dan beberapa kegiatan lain,” pungkasnya.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *