SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Pendangkalan drainase (saluran air) induk dan puluhan bangunan liar menjadi biangkerok banjir di wilayah Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, selama ini. Setiap kali turun hujan lebat kurang dari tiga jam jalan-jalan di wilayah setempat langsung tergenang air.
Lebar drainase yang semula mencapai lima meter, sekarang ini menyempit hanya tinggal satu meter. Sehingga menyebabkan aliran air terhambat dan terjadi banjir.
Drainase induk atau akrab disebut Kali Balun merupakan salah satu drainase utama selain Kali Putat untuk menampung air dan mengalirkannya hingga ke Bengawan Solo. Namun air dari kali tersebut harus terhambat lantaran terjadi pendangkalan dan bangunan liar di atasnya.
“Tahun 2017 ini akan kami lakukan normalisasi dulu sebelum melakukan pembongkaran bangunan,†kata Kepala Dinas Perumahan Pemukiman dan Perhubungan (Dinperumkimhub) Blora, , Syamsul Arif kepada suarabanyuurip.com, Senin (20/2/2017).
Normalisasi akan dilakukan mulai belakang Terminal Cepu hingga ujung yang saat ini banyak bangunan liar.
“Nanti pasti akan dibongkar,†tandasnya saat meninjau lokasi.
Untuk realisasi pembangunan drainase akan dilakukan pada tahun 2018 mendatang. Sedangkan untuk penertiban bangunan liar di atas kali akan dilakukan koordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
“Pihak Satpol PP yang mempunyai kewengan. Tentunya mereka yang akan melakukan sosialisasi dan penertiban. Kalau kondisinya sudah aman dan kondusif, baru kami bisa melakukan kegiatan,†jelasnya.
Sementara, Agil Kristiawan, warga Rt 3/ Rw 13, mengaku telah bertempat tinggal dan membuka usaha di area tersebut selama 20 tahun. Namun demikian, dirinya menyatakan tidak keberatan jika tempat tinggalnya harus digusur.Â
“Tapi harus ada sosialisai dan pemberitahuan dulu,†sambung Agil.
Selama menempati kawasan kali itu Agil mengaku rumahnya belum pernah tergenang banjir dari air hujan. Namun dirinya berharap jika pembangunan itu tetap dilakukan, harus sesuai dengan pondasi lama.
“Karena kondisi kali itu berkelok,†ucapnya.
Dari pantauan di lapangan, terdapat 35 rumah penduduk di lokasi tanah drainase. Kebanyakan telah dibagun permanen. Terdapat pula rumah sarang burung milik pengusaha asal Cepu yang berdiri di tengah kali dengan hanya menyisakan sekitar satu meter untuk aliran air.
“Kami akan mendatangi pemilik rumah burung itu,†tambah Kepala Bidang Perumahan Dinperumkimhub Blora, Suharyono. (ams)