Sempat Gagal, Kini Raup Untung Rp30 juta/bulan

peternak lovebird

SuaraBanyuurip.comTotok Martono

Lamongan – Burung lovebird masih menjadi salah satu burung yang disukai kicau mania-sebutan pecinta burung. Selain sebagai kicauan, burung ini juga bisa dijadikan burung hias karena memiliki warna yang indah.

Warna-warni inilah yang menjadikan burung lovebird memiliki harga cukup tinggi, yakni bisa sampai menembus Rp50 juta per ekornya. Harga itu ditentukan dari warna pada sayap, leher, badan maupun kepala burung. 

“Burung lovebird memang populer dengan keindahan selaksa warna bulunya. Tak heran jika harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah, ” kata Edy Susanto, penangkar burung love bird asal Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (22/1/2017).

Terdapat puluhan jenis varian warna pada lovebird yang dibudidaya Edy. Namun dari jenis itu yang saat ini sedang ngetrend dan menjadi buruan kolektor lovebird hanya ada sekitar empat varian warna yaitu biola, fale fallow, euwing dan porblue.

Untuk varian biola, dia menyebut harga jualnya satu ekor burung indukan bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp12 juta. Sedang jenis fale fallow lebih mahal lagi. Untuk anakannya saja satu ekornya menembus Rp 35 juta hingga 50 juta.

Baca Juga :   DKPP Bojonegoro Distribusikan Bantuan 2.000 Bibit Tanaman Produktif

Sedangkan jenis Euwing untuk anakannya berkisar Rp6 juta hingga Rp12 juta dan Porblue harganya Rp 3 juta hingga Rp 9 juta per ekor.

Menurut pria berambut gondrong ini, selama ini tingginya nilai jual lovebird ditentukan pada singing (suara) dan beauty (kecantikan) warna. Untuk love bird singing dinilai pada panjangnya suara atau dikalangan penghobi singing love dikenal dengan suara ngekek.

“Sedang jenis beauty love lebih kompleks. Tidak hanya pada keindahan warna bulu namun juga pada bentuk paruh, kehalusan bulu dan kejernihan mata,” ucap Edy.

Di kalangan pecinta lovebird lokal maupun nasional nama Edy sudah cukup populer. Pria kelahiran 17 Januari1979 ini tergabung dalam Komunitas Lovebird Indonesia (KLI). Edy selalu aktif terlibat di setiap  kontes dan road show yang diadakan KLI di kota-kota besar seperti Jogyakarta, Jakarta, Semarang, Pekalongan dan Surabaya.

“Selain berinteraksi dengan sesama penghobi lovebird juga bisa saling membanggakan varian baru yang berhasil diciptakan, ” ujarnya.

Semakin beragamnya varian lovebird memang tidak lepas dari ‘kreatifitas’ para kolektor maupun peternak lovebird yang rajin melakukan ‘eksperimen’ mengkawin silangkan varian love bird hingga lahir varian baru

Baca Juga :   Desa Ring 1 Migas Sukowati Belum Terima Dana Desa

Meski kolektor love bird semakin boming, namun peternak lovebird masih minim. Karena banyak orang yang gagal dalam mencoba beternak.

Sebab, menurut Edy, untuk Berternak lovebird tidak cukup bermodal cinta, namun juga harus paham dan menjiwai betul naluri burung. Juga memperhatikan makanan, kandang dan perawatan lainnya.

“Harus benar-benar telaten dan penuh kasih sayang merawatnya. Repotnya sama seperti merawat bayi, ” ujar bapak dua anak ini sambil tertawa panjang.

Edy mengaku mulai kepincut dengan lovebird sejak tahun 1999. Saat itu dirinya dikasih sepasang lovebird oleh pamannya. Namun seperti halnya peternak pemula lainnya, Edy gagal. Dua burungnya malah mati. 

Kemudian pada tahun 2012, Edy kembali tergugah  beternak lovebird. Dari membongkar celengannya ia membeli love varian Josan dan Pastel Ijo seharga Rp2,5 juta. Berkat kesungguhan dan ketelatenannya, penangkaran love bird-nya terus berkembang.

Kini setiap bulannya Edy bisa mengantongi hasil penjualan lovebird Rp20 juta- Rp30 juta. Pembeli langsung datang kerumahnya.(tok)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *