Desa Remen Lokasi Perluasan Lahan

Muspika jenu ukur lahan

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Setelah Muspika Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur melakukan pendataaan, ternyata lahan milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hanya berada di empat desa, mulai Desa Mentoso, Kaliuntu, Rawasan, dan Wadung. Artinya  rencana penambahan lahan untuk proyek Kilang Tuban, nantinya berada di Desa Remen.

“Untuk berapa lahan yang dibutuhkan kami belum mengetahuinya,” ujar Sekretaris Kecamatan Jenu, Suwoto, kepada suarabanyuurip.com, melalui pesan singkatnya, Jumat (24/2/2017).

Data yang dimiliknya, lahan KLHK di empat desa seluas 337,22 hektar dengan 1.130 penggarap. Petani inilah yang diusulkan mendapatkan ganti rugi atau tali asih sebesar Rp 20 juta/hektar. Apakah nilai tersebut disetujui atau tidak, tergantung kesepakatan bersama Pertamina dan Rosneft Oil Company.

Hanya saja dalam sosialisasi Kilang Tuban, Direktur Mega proyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi juga belum dapat memastikan berapa lahan tambahan yang dibutuhkan.

“Untuk berapa luasannya baru akan dibicarakan dengan Pemda,” pungkas Rachmad dihadapan Bupati Tuban, Fathul Huda beberapa waktu lalu.

Baca Juga :   15 Truk Minyak TBR Akan Diuji Coba

Seiring dengan berjalannya proses kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), ground breaking proyek NGRR Tuban akan dilakukan paling cepat pada awal Juli 2017. Setelah itu, akan dilakukan kegiatan reklamasi (perataan garis pantai) dan pengerukan jalur kapal.

Sesuai rencana, Kilang Pertamina-Rosneft beserta fasilitas penunjangnya menempati areal sekitar 404 hektar (Ha). Apabila menghitung kebutuhan lahan kilang dengan yang dimiliki KLHK kira-kira masih butuh 67 Ha lebih.

Saat ini tahapan proses proyek senilai 14-15 USD (setara dengan Rp175 triliun) tersebut, memasuki menghimpun masukan dari publik untuk studi Amdal. Studi ini diperkirakan bakal rampung menjelang dimulainya konstruksi.

“Sesuai jadwal pada minggu pertama Juli 2017 masuk tahap dimulainya kontruksi, pada akhir 2021 kontruksi selesai,” terang Rachmad.

Setelah itu pada bulan Februari 2022, kilang minyak di dunia dengan kapasitas produksi hingga 400.000 barel minyak per hari itu bakal memulai produksi. Kilang ini terintegrasi dengan petrokimia.

Dia katakan, saat ini Pertamina sedang mengejar daulat energi, karena saat ini produksi minyak di tanah air sebanyak 800.000 barel perhari. Sedangkan kebutuhan minyak mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. (Aim)

Baca Juga :   Jadikan Proyek JTB Solusi Pengurangan Naker

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *