SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Memasuki masa tanam, sejumlah petani melon di Dusun Bandungrowo, Desa Kedungsoko, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mencoba mengembangkan tanam melon di atas tanggul tambak ikan. Inovasi tersebut untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya terabaikan.
“Kami mencoba memanfaatkan lahan tanggul tambak sebagai tanam melon,” ujar seorang petani Kedungsoko, Bini, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (8/3/2017).
Selama ini, tanggul tambak ikan hanya difungsikan sebagai media tanam cabai, tomat, maupun kacang panjang. Itu pun pendapatannya tidak sesuai usahanya. Oleh karena itu, melalui inovasi ini diharapkan mampu menambah pemasukan bagi petani.
Sementara, salah satu anggota Petani Muda Merdeka Desa Kedung Soko (PMMDKS), Mahfud Hariadi, optimis bahwa kreatifitas petani di desanya mampu merubah tanggul tambak menjadi lahan produktif dan berpenghasilan besar.
“Karena kreatifitas semua dapat di lakukan, bersama dengan petani muda,” jelasnya.
Di era globalisasi dan kompetisi seperti ini, tidak ada cara lain kecuali merumuskan sesuatu yang inovatif bagi petani. Tujuannya agar dapat berpenghasilan yang layak, sesuai tuntutan liberalisme.
Lebih dari itu, pada saat musim kemarau banyak tanaman padi terkena hama wereng dan hama yang lain. Hal ini tentu menjadi problem klasik khususnya di Kecamatan Plumpang.
Dijelaskan pula, di wilayah setempat ada tiga kali musim panen. Saat musim kemarau antara bulan Juni – September lahan tambak akan terkuras airnya biasanya di pergunakan untuk menanam padi.
Saat musim hujan baru di mulai antara bulan September – Januari juga masih bisa di tanami padi. Terakhir ketika musim hujan tiba, persawahan akan menjadi tambak ikan tawar. Kondisi ini terjadi kisaran antara bulan Januari – Mei.
“Ini sangat menguntungkan bagi petani ketika memanfaatkan tanggul untuk menanam melon,” tambahnya.
Penghitungannya satu petak sawah yang ada tanggulnya, bisa ditanami 1.000 bibit melon. Rata-rata satu tanaman melon menghasilkan 2 buah yang rata rata beratnya 2 sampai 3 kg. Untuk harganya sendiri dapat mencapai Rp 9.000/buah kalau lagi mahal. Artinya ketika panennya melimpah, petani akan untung lebih banyak.
Untuk perawatannya dapat dilakukan sederhana, cukup pemupukan, penyemprotan, hingga pemotongan tangkai guna memilih melon yang ingin di besarkan. Sedangkan penyiramannya sendiri lebih ringan, cukup 3 kali seminggu.
Diakuinya, para petani di Desa Kedungsoko sudah mulai mengikuti cara ini sebagai langkah inovatif mencari penghasilan. Melihat situasi area persawahan di rawa, mungkin  sebagian warga masih menganggap budidaya melon sangat sulit di lakukan apalagi di atas tanggul tambak.
Ditambah belum lagi pembiayaan yang mahal, tapi semua itu hanya ketakutan bagi warga yang sudah berhasil. Semoga berkelanjutan dan lebih ada inovatif lain dari penanaman tersebut.
“Kami akan dorong supaya petani lokal terus bereksperimen,” tandasnya. (Aim)