SuaraBanyuurip.com – Ali Imron
Tuban – Program tali asih Kilang Tuban, Jawa Timur, yang dijanjikan Pertamina (Persero) kepada 1.130 petani di 4 desa di Kecamatan Jenu, dikabarkan ditolak Kementrian Keuangan (Kemenkeu). Penolakan tersebut karena lahan proyek Kilang Tuban seluas 340 hektar sudah milik negara, yakni milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).Â
“Saat ini masih tarik ulur soal tali asih di pusat,†ujar Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein, ketika dikonfirmasi suarabanyuurip.com, Jumat (10/3/2017).
Informasi yang diterima Wabup, Â Kemenkeu masih mempermasalahkan lahan Kilang Tuban milik negara. Logikanya lahan milik negara dipergunakan proyek negara, kenapa harus mengeluarkan tali asih.
“Ditambah juga belum ada dasar hukum pencairan tali asih tersebut,†imbuhnya.
Dikonfirmasi secara terpisah, Area Manager Communication & Relation Pertamina, Heppy Wulansari, belum menjawab pesan singkat yang dikirimkan suarabanyuurip.com sejak pukul 11.25 WIB.
Sedangkan terkait tali asih, jadwal Sekretaris Camat (Sekcam) Jenu, Suwoto ke Surabaya hari ini untuk menemui Pertamina ditunda. Informasi yang diterima Suwoto, Pertamina masih menunggu rekomendasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait tali asih.
“Semoga usulan kami tali asih Rp 20 juta per hektar disetujui pemerintah,†jelasnya.
Pasca dilakukan pengecekan di lapangan, ada 1.130 penggarap di empat desa dengan luasan lahan 337.222,23 hektar. Rinciannya penggarap di Desa Kaliuntu sebanyak 49 orang, 633 orang di Desa Wadung, 156 penggarap di Desa Rawasan, dan 292 orang Desa Mentoso.
Pemberian tali asih petani penggarap lahan Kilang Tuban, secara tegas disampaikan Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, Rachmad Hardadi, dalam sosialisasi dan konsultasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) kepada publik di Tuban tanggal 12 Januari 2017.
Dalam kesempatan tersebut, tali asih diberikan dalam bentuk ganti rugi tanaman dengan hitungan senilai dua kali hasil panen tanaman. Selain itu Pertamina juga memberikan tambahan sangu dengan hitungan satu kali panen, untuk persiapan alih profesi kepada petani.
Lebih dari itu, Pertamina juga menyiapkan program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk petani penggarap. Program sosial kemasyarakatan ini, diberikan agar warga terdampak bisa lebih mandiri. Apalagi setelah ladang yang selama ini menjadi gantungan hidup, telah diambil pemerintah untuk kilang.
Terkait kebutuhan tenaga kerja dari desa terdampak operasi Kilang Tuban, Pertamina berkomitmen untuk memberi prioritas kepada warga terdekat. Mekanismenya bakal dikordinasikan dengan Pemkab Tuban. (aim)