Butuh Rp8 Miliar untuk Tangani Ongkos Angkat Angkut

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Untuk menangani pembayaran ongkos angkat dan angkut para penambang sumur minyak tua di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ternyata, membutuhkan biaya besar. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setempat, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) mengkakulasi, biaya yang dibutuhkan dalam satu bulan untuk menangani usaha tersebut mencapai Rp 7 miliar hingga Rp8 miliar.

“Setelah saya memanggil beberapa penambang, dengan produksi sekarang sekitar 20 tangki itu dalam satu bulan membutuhkan uang Rp7-8 miliar,” ujar Direktur Operasional PT BBS, Tonny Ade Irawan di hadapan Komisi B, Selasa (14/3/2017) lalu.

Dengan kondisi tersebut, PT BBS merasa keberatan karena tidak memiliki anggaran sebesar itu. Sementara pihaknya terus melakukan komunikasi untuk mencari jalan keluar apakah dengan cara meminjam bank. Meskipun rencana itu ditolak Bupati Bojonegoro Suyoto karena yang diuntungkan adalah bank. 

Sedangkan Pertamina EP sendiri akan melakukan pembayaran ongkos angkat dan angkut dua minggu sekali dengan catatan dokumennya lengkap. Sementara penambang meminta agar ongkos angkat dan akut dibayar setiap hari.

Baca Juga :   DPR Dorong Percepatan Proyek Abadi Masela: Indonesia Siap Menjadi Produsen Gas

Karena itu, skenario pertama saat mengelola sumur tua nantinya, PT BBS akan meminta kepada Pertamina EP untuk menaikkan ongkos angkat dan angkut agar menjadi 80 persen dari semula 70 persen dari Indonesian Crude Price (ICP). 

“Karena kalau masih pada angka 70 persen ICP, kita akan sulit bersaing dengan para penyuling. Karena, penyuling memberi harga Rp2400 per liter. Sementara dengan harga 70 persen ICP itu ketemu sekitar Rp2200 per liter,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri menyatakan, tidak mempermasalahkan pemberian modal sebesar Rp8 miliar kepada BBS,  manakala mampu membuat bisnis plan sebaik mungkin agar DPRD benar-benar yakin. 

“Jangankan yang sekarang, Direktur BBS sebelum-sebelumnya juga tidak kalah bagus dalam membuat wacana. Tapi hasilnya nol. Semoga saja, yang sekarang ini tidak hanya wacananya saja yang bagus, tapi juga realisasi dan implementasinya juga harus bagus,” harap Lasuri.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *