SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Setelah diputuskannya tali asih paparan gas buang (flare) selama empat bulan, perangkat Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, berencana membahas nasib desanya pasca pemberian uang pengganti kompensasi itu. Saat ini belum ada statment apapun dari internal desa, apakah keputusan itu diterima atau ditolak.
“Saat ini belum diputuskan di internal desa, rencananya pekan depan, Mas,†ujar Kepala Desa Rahayu, Sukisno, ketika dikonfirmasi suarabanyuurip.com, melalui pesan singkat, Sabtu (25/3/2017).
Kisno yang selama ini dikenal getol memperjuangkan hak warganya, bakal menimbang betul apapun keputusan yang menyangkut tali asih. Diharapkan apapun keputusan dari desa, mampu membawa kemaslahatan di sekitar Lapangan Migas Mudi, Blok Tuban.
Dalam pembahasan internal nantinya, ada kemungkinan membahas skema program Corporate Social Responsibility (CSR). Selama ini program pemberdayaan itu, dinilai jauh dari keinginanya.
“Warga Rahayu harus mandiri minimal adanya CSR mampu berwirausaha sendiri,†imbuhnya.
Beberapa waktu lalu, Wakil Bupati Tuban, Noor Nahar Hussein, membenarkan telah menerima informasi dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Jabanusa. Intinya Pemerintah Pusat hanya menyetujui tali asih empat bulan, bukan enam bulan sesuai usulan warga terdampak.
Setelah itu, pria kelahiran Kecamatan Rengel ini masih mengkaji skema yang pas pasca tali asih tersebut. Riset dampak paparan gas terhadap warga terdekat, kemungkinan besar bakal dilakukan untuk membuktikan riset tim ITS yang menyebut flare sudah diambang batas.
“Untuk penyampaian tali asih kami masih mencari waktu yang pas,†jelasnya.
Data dari SKK Migas, tali asih tersebut apabila dinominalkan setara dengan uang Rp 1,8 miliar lebih. Anggaran pengganti kompensasi itu, bakal diambilkan dari uang hasil produksi operator Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina-Petrochina East Java (JOB P-PEJ).
Tahun 2017 ini, JOB P-PEJ berencana menjadikan Lapangan Mudi yang juga mengolah minyak dari Lapangan Sukowati, Bojonegoro menuju zero gas flare. Inovasi tersebut dilakukan setelah berhasil menghemat pengeluaran negara sebesar USD 2 juta Dollar AS melalui inovasi water injection di lapangan Sukowati. (Aim)