Stop Pendirian Pabrik Semen Baru di Jawa

demo semen

SuaraBanyuurip.comAli Imron

Tuban – Sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi lingkungan, Forum Peduli Lingkungan Tuban (FPLT) Jawa Timur, meminta pemerintah menyetop pendirian pabrik semen di Pulau Jawa khususnya di Tuban. Alih fungsi kawasan lindung ke industri dinilai menjadi pemicu kenaikan bencana ekologis, diantaranya, banjir, kekeringan, maupun tanah longsor.

“Bencana yang melanda Indonesia khususnya di Pulau Jawa akhir-akhir ini akibat berkurangnya kawasan hutan lindung,” ujar Koordinator Lapangan Forum Peduli Lingkungan Tuban (FPLT), Agil, kepada suarabanyuurip.com, ketika dikonfirmasi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Jalan Pahlawan Tuban, Rabu (29/3/2017).

Kerusakan lingkungan di Bumi Wali (sebutan lain Tuban) akibat pertambangan juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Dimana hampir penduduk yang bermukim di sekitar tambang Tuban, menderita penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Hal inilah yang harus segera diantisipasi oleh pemerintah, untuk tidak memperluas area tambang. Keberadaan pabrik Semen Gresik di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, dan Holcim di Desa Merkawang, Kecamatan Tambakboyo, tetap harus dikawal.

Baca Juga :   Tewas Terserang Jantung Usai Bercinta dengan PSK

Sedangkan dua pabrik semen baru yakni Abadi Semen di Desa Sugihan, Kecamatan Merakurak, dan Semen Uniment di Kecamatan Tambakboyo, harus dihentikan. Dikhawatirkan bertambahnya dua pabrik baru ini bakal menambah daftar kerusakan alam di Tuban.

Selain itu pemerintah juga diminta menghentikan pertambangan ilegal di Tuban. Jangan sampai ladang pekerjaan tersebut terus mengorbankan nyawa rakyat kecil. Berdasarkan data di Polres Tuban, hampir setiap tahun ada korban yang tertimpa batu kapur/karst.

“Aksi peduli lingkungan serentak ini juga dilakukan se-Indonesia tujuannya mendorong pemerintah menetapkan tanggal 28 Maret sebagai hari karst Nasional,” jelas kawan karib dari almarhum aktifis lingkungan Edy Toyibi.

FPLT juga mengkritisi masih tingginya angka kekiskinan di Tuban yang tak beranjak dari 17 persen, di atas rata-rata Nasional. Hal ini sebagai bukti keberadaan pabrik semen belum menyejahterakan warga miskin.

Beberapa tuntutan FPLT tersebut disampaikan dalam bantuk aksi treatikal, dan pungut sampah di sepanjang jalan Pahlawan, Basuki Rahmat, Veteran, Panglima Sudirman, Pemuda, Basuki Rahmat, Kalijaga, dan berakhir di bundaran Patung Letda Sucipto dengan orasi.

Baca Juga :   Indeks Kerukunan Umat Beragama Bojonegoro Lampaui Nasional

Terakhir seratusan peserta aksi yang tergabung di FLPT, langsung menuju makam almarhum Edy Toyibi untuk berziarah. Sikap ini sebagai wujud masih banyaknya pihak yang berharap lingkungan Tuban lebih baik. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *