SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Operator Migas Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), memastikan tidak ada peningkatan volume pembakaran gas (Flaring) pada produksi 200 ribu barel per hari (bph) dari Lapangan Banyuurip yang direncanakan berlangsung pada April 2017 mendatang. Karena gas ikutan tersebut akan diinjeksikan kembali untuk menjaga agar produksi minyak tetap stabil.
Sekarang ini secara normal produksi Banyuurip yang terletak di wilayah Gayam, Kabupaten Bojonegoro, sebesar 185.000 bph. Namun pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) meminta EMCL untuk melakukan tes produksi tinggi yakni sebesar 200.000 bph guna mencapai target lifting nasional.
“Tes ini untuk memastikan bahwa fasilitas yang ada masih bisa, dan sumur-sumurnya juga mampu,” kata Public Affairs and Social Development ExxonMobil Indonesia Erwin Maryoto, Kamis (30/3/2017) kemarin.Â
Tes produksi 200 ribu bph terus dilakukan untuk melihat apakah produksinya bisa stabil atau tidak. Hasilnya ternyata bisa.
“Karena itu kita ingin membuktikan produksi bisa stabil 200 ribu bph,” ucapnya.Â
Meski ada peningkatan produksi, pihaknya memastikan tidak akan ada kenaikan volume pembakaran gas. Flaring yang ada antara produksi 165 ribu bph yang sesuai rencana pengembangan (plant of developmen/PoD), 185.000 bph sesuai kapasitas dan sampai 200 ribu bph, tidak ada bedanya.Â
Sekarang rata-rata volume gas yang dibakar sebesar 5 juta standar kaki kubik per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/ MMSCFD).Â
“Karena gasnya akan diinjekasikan lagi ke reservoir untuk menjaga produksi agar stabil. Sedangkan gas yang dibakar saat ini memang gas yang seharusnya dibakar. Karena kalau tidak dibakar justru akan berbahaya,” sambung External Affairs Manager EMCL, Dave Seta saat “Ngopi Bareng” sejumlah wartawan, Kamis (30/3/2017) malam.
Untuk menaikkan produksi 200 ribu Bph ini masih menunggu revisi analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH). Diharapkan revisi tersebut bisa segera selesai sehingga produksi rata-rata 200 ribu bph tahun 2017 dapat terlaksana April mendatang.
“Ada dokumen teknis yang masih perlu disempurnakan sebelum sidang Amdal dilakukan,” pungkasnya.
Untuk diketahui hingga tahun 2016 lalu, produksi minyak Banyuurip yang tertampung Fasilitas Penyimpanan dan Alir-Muat Terapung (Floating Storage and Offloading/FSo) Gagak Rimang di lepas laut Palang, Kabupaten Tuban, telah dilakukan pengkapalan sebanyak 100 kali. FSO ini berkapasitas 1,7 juta barel. (rien)