SuaraBanyuurip.com – Ririn Wedia
Bojonegoro – Pemerintah Desa (Pemdes) Ngampel, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengklaim tingkat kemiskinan di wilayahnya mengalami penurunan signifikan sejak lima tahun terakhir. Penurunan ini terjadi setelah di desa tersebut dilakukan kegiatan eksplorasi dan produksi sumur Pad B Lapangan Sukowati, Blok Tuban.
“Sejak ada pengeboran minyak jumlahnya terus menurun,” ujar Sekretaris Desa Ngampel, Hantoyono kepada suarabanyuurip.com, Kamis (5/4/2017).
Sesuai pendataan yang dilakukan pemdes, dari total jumlah penduduk di Desa Ngampel sebanyak 1.772 jiwa, hanya dua orang yang masih dianggap tidak mampu hingga saat ini. Sedangkan yang lainnya mengalami peningkatan, dari awalnya tidak mampu menjadi mampu.
“Semua indikator kemiskinan, saya rasa sudah tidak ada di sini,” imbuhnya.
Indikator kemiskinan yang dimaksud diantaranya tempat tinggal seperti rumah berlantai tanah, maupun dinding dari bambu sudah tidak ditemui di Desa Ngampel. Begitu juga penghasilan warga sekarang ini rata-rata sudah di atas Rp600.000 per bulan.
“Bahkan kita sudah menggunakan jamban semua,” tandasnya.
Menurut Hantoyono, penurunan kemiskinan ini dipengerahui oleh beberapa hal. Diantaranya adanya program tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dari operator Blok Tuban, Joint Operating Body Pertamina Petrochina East Java (JOB P-PEJ), Â Alokasi Dana Desa (ADD) yang didapat dari bagi hasil migas, serta Dana Desa (DD) yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah.Â
“Seperti program perkembangbiakan kambing, warga yang awalnya berpenghasilan rendah jadi bertambah dari hasil ternaknya,” tandas Hantoyono.
Kemudian bantuan modal melalui koperasi bagi warga yang berwirausaha. Bantuan tersebut telah menumbuhkan usaha baru bagi warga seperti membuka warung makan, warung kopi, dan lain sebagainya. Serta program pemberdayaan masyarakat lainnya. Â
“Alhamdulillah, ada tambahan pendapatan,” ucap Yanti, salah penjual Mie Ayam di depan Balai Desa Ngampel.
Selain itu semakin meningkatnya kesejahteraan warga Ngampel ini dikarenakan jumlah pengangguran terus berkurang. Sekarang ini banyak warga yang sudah bekerja menjadi buruh seperti buruh di toko, pabrik rokok, pelayan rumah tangga, wiraswasta, ojek, tukang becak, dan pegawai negeri sipil (PNS).Â
“Kalau yang kerja di pengeboran minyak ada sekitar 20 sampai 30 orang. Tinggal sedikit. Itupun kontraknya habis tahun ini,” ungkapnya.
Meski mengklaim tidaka ada lagi kemiskinan, namun Hantoyono mengaku masih ada 51 kepala keluarga (KK) yang terdata menerima beras sejahtera (Rastra) yang dulunya bernama beras miskin atau (raskin).
Hanya saja jumlah penerima rastra berdasarkan penetapan oleh pihak kecamatan. Sedangkan pihak desa tidak mengajukan bantuan tersebut.Â
“Ya bagaimana lagi, karena sudah ditetapkan ya kita masukkan saja. Bantuan ini kita berikan berdasarkan musyawarah warga dan pemerintah desa, mana yang paling pantas mendapatkan,” pungkasnya.(rien)