Meragukan Kemampuan BBS

Lapangan Sukowati

SuaraBanyuurip.comRirin Wedia

Bojonegoro – Kegagalan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bojonegoro, Jawa Timur, PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS) membangun pabrik pengolahan gas di Dusun Plosolanang, Desa Campurejo, Kecamatan Bojonegoro, menjadi catatan tersendiri bagi masyarakat ring satu Lapangan Sukowati, Blok Tuban.

Mereka pun meragukan kemampuan perusahaan plat merah ini bila menjadi operator Blok Tuban untuk mengelola Lapangan Sukowati menggantikan Petrochina yang akan habis masa kontraknya pada 2018 mendatang. 

“Kita sudah dengar kalau BBS akan mengelola Lapangan Sukowati, tapi masak mampu?” kata Sudirman, warga Desa Ngampel, Kecamatan Kapas, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (5/4/2017).

Keraguan warga ring satu Sumur Pad B Lapangan Sukowati bukan tanpa alasan. Pertama dari permodalan yang dimiliki BBS, dan sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola lapangan Sukowati.

“Itu sudah terbukti BBS gagal membangun pabrik pengolahan gas. Padahal saat itu warga sudah berharap besar proyek itu akan membuka peluang kerja dan usaha,” ujar Sudirman, mengungkapkan.

Pria yang juga anggota Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) Ngampel ini mengaku, dari informasi yang didapat, hak kelola Lapangan Sukowati akan diberikan kepada Pertamina EP. Diharapkan dengan ditangani Pertamina EP, kesejahteraan warga sekitar produksi bisa lebih meningkat dibanding sekarang ini. 

Baca Juga :   Akan Pastikan Keamanan Jargas Blok Gundih

“Seperti perekrutan tenaga kerja, serta gaji karyawan harapannya nanti meningkat,” harap Sudirman. 

Jika kabar tersebut benar, dirinya berharap nantinya BBS bisa joint dengan Pertamina EP.

“Tapi harapannya tipis-tipis saja. Daripada kecewa berlebihan seperti dulu,” pungkasnya.  

Berbeda lagi Kepala Desa Campurejo, Edi Sampurno. Dirinya mengaku optimis dan menyambut baik keinginan BBS untuk mengelola Lapangan Sukowati. 

“Kami sangat mendukung putra daerah mengelola Lapangan Sukowati,” tegasnya.

Diharapknan apabila pengelolaan Lapangan Sukowati ada campur tangan BBS bisa meningkatkan partisipasi warga sekitar Pad A.

“Mungkin bisa lebih transparan dalam perekrutan tenaga kerja,” harap Edi Sampurno.

Karena itu dirinya meminta agar BBS benar-benar merencanakan dengan matang sehingga tidak mengalami kegagalan saat membangun fasilitas gas pengolahan flare.(rien)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *