Mahipal Buka Posko Bantuan Longsor Ponorogo

Galang dana

SuaraBanyuurip.com - Ali Imron

Tuban – Belum ditemukannya 25 korban hilang tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo sejak awal April 2017 kemarin, mendorong komunitas pecinta alam di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, membuka posko bantuan. Sebagai langkah awal, 20 relawan lingkungan menggalang dana di komplek GOR Rangga Jaya Anoraga Jalan Sunan Kalijaga Tuban.

“Aksi ini sebagai respon relawan Tuban untuk membatu korban longsor Ponorogo,” ujar aktivis Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Unirow Tuban, Karisma, kepada suarabanyuurip.com, Minggu (9/4/2017).

Sebanyak 20 relawan yang terlibat aksi sosial ini berasal dari Mahipal, Amreta Universitas Terbuka (UT), Elhera Stitma, STIKES, Mapaus Ubaya, komunitas Blusukan Alam Tuban & sispala yg tergabung dalam Posko SAR Tuban. Mereka melibatkan masyarakat untuk meningkatkan sosial respeknya.

Sejak tanggal 6 April 2017 kemarin, panitia telah memulai penggalangan dana di beberapa instansi pemerintahan, sekolah ataupun di internal komunitas. Lantaran keterbatasan personel, relawan akhirnya tidak menggalang bantuan di titik trafic light seperti sebelumnya.

Baca Juga :   ESDM Usulkan Geolistrik

“Bagi masyarakat lokal yang ingin membantu korban dapat langsung datang di Posko SAR Tuban sekret Mapala Unirow atau Elherra STITMA Tuban,” imbuhnya.

Sedangkan untuk warga luar Tuban, panitia telah menyediakan nomor rekening BRI A/N Nur Muhammad (6504-0 101-5111-531). Bagi yang sudah transfer harap menunjukkan bukti transfer dan mengubungi nomor Witriana : 085745160693.

“Setelah semua dana terkumpul Insyaallah pekan depan relawan langsung merapat ke posko Ponorogo,” jelasnya.

Perlu diketahui, sampai kini Tim Gabungan SAR terus melanjutkan pencarian korban hilang tanah longsor Ponorogo. Hal ini untuk menindaklanjuti permintaan dari keluarga korban.

Untuk kesulitan saat evakuasi pencarian korban, tim SAR terkendala jumlah material longsoran yang begitu tebal. Perkiraanya jumlah materialnya mencapai satu juta kubik.

Bila dilakukan pencarian secara menyeluruh membutuhkan waktu satu tahun dengan 10-15 unit eksavator. Sementara untuk menambah alat tidak mungkin dilakukan lagi. (aim)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *