SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Angka Kematian Ibu (AKI) dan Bayi (AKB) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, masih tinggi yakni mencapai 22 kasus pada tahun 2016. Jumlah ini menempatkan bumi Arya Penangsang-sebutan lain Blora- pada peringkat ke 8 di Provinsi Jawa Tengah.
Tingginya AKI dan AKB ini menjadi sorotan Bupati Blora, Djoko Nugroho. Hal itu disampaikan, Wakil Bupati Blora, Arief Rohman, saat membacakan sambutannya dalam rapat koordinasi (Rakor) Kesehatan Daerah (Rakorkesda) tahun 2017 oleh Dinas Kesehatan Blora, bertema “Dengan Melaksanakan Gerakan Masyarakat Sehat Melalui Pendekatan Keluarga Kita Wujudkan Kebupaten Blora Sehat†di Ruang Batavia Same Hotel Kecamatan Cepu, Selasa (11/4/2017).
“Bapak bupati menyoroti masalah ini. Karena selama tahun 2016 kemarin ada 22 kasus, dan Blora menempati peringkat 8 terbanyak se Jawa Tengah,†katanya.
Karena itu dirinya meminta kepada seluruh stakeholder bersama-sama mengatasi permasalahan ini, salah satunya dengan program intip kehamilan. Dimana setiap puskesmas, posyandu, dan Ibu-ibu PKK di pedesaan harus memiliki data siapa saja warganya yang hamil, sehingga bisa dilakukan pendampingan agar kesehatan dan pemenuhan gizinya terjaga.
“Dengan begitu ibunya sehat, saat melahirkan sehat, dan bayinya juga kuat,†lanjutnya.
Arief mengungkapkan, untuk Januari hingga Maret 2017 kemarin, sudah ada 7 kasus kematian ibu dan anak. “Ini menempatkan Blora di peringkat ketiga terbanyak se Jawa Tengah,” pungkasnya.(ams)