SuaraBanyuurip.com -Â Ali Imron
Tuban – Julukan Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sebagai kota Seribu Goa ternyata bukan omong kosong belaka. Sejak tahun 2001 Organisasi Pecinta Alam (OPA) Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban telah menemukan dan mendata 300 goa.
“Temuan ini karena secara ilmiah hampir 70 % wilayah Kabupaten Tuban merupakan kawasan karst (batu kapur),” ujar anggota Mahipal Unirow, Slamet, kepada suarabanyuurip.com, Kamis (20/4/2017).
Praktis kondisi ini membuat Bumi Wali (sebutan lain Tuban) kaya akan potensi mulai pariwisata, pertanian, hidrologi, kearifan masyarakat, budaya, pertambangan, dan lain sebagainya. Ditambah kawasan kapur ini salah satu potensi besarnya adalah keberadaan goa.
“Karena area kapur merupakan kawasan yang bisa mengalami proses pelarutan dan akan membentuk sistem pergoaan,” imbuh ayah dari satu anak ini.
Instruktur penelusur goa Indonesia, Ihksan, menambahkan, mangacu data PBB keberadaan goa di muka bumi ini 90% adalah di kawasan kapur. Hal ini terbukti secara ilmiah dari hasil pendataan Mahipal Unirow Tuban mulai tahun 2001.
“Itu belum termasuk cerukan yang berada di sepanjang lembah,” terang pria yang juga menjadi anggota Mahipal Unirow ini.
Dari 300 goa yang terdata dan sudah bisa dimasuki, Ihksan memprakirakan masih ada ratusan bahkan ribuan goa yang belum nampak. Kenapa goa sulit ditemukan, karena proses pelarutan yang sangat lama sampai beribu-ribu tahun baru terbuka entrance-nya (mulut gua nya).
Salah satu bukti nyata bahwa kawasan kapur banyak goa, setelah ditemukanya beberapa goa baru yang berada di area pertambangan Desa Banjaragung, Kecamatan Rengel. Sangat menakjubkan di dalam goa banyak d temukan helektit, drapery, pilar, sodastrow, flowstone, stalaktit dan stalakmit.
Goa alami ini berbentuk horisontal dengan panjang lorong sekitar 20 meter yang di penuhi oleh ornamen yang masih tumbuh. Hal ini perlu di sadari bersama bahwa banyaknya potensi yang bisa di gali di Tuban.
“Apalagi dengan banyaknya program ekowisata yang lagi nge-trend di indonesia,” terang pria lajang ini panjang lebar.
Sebagai rekomendasi untuk menyelamatkan goa, potensi ini dapat di kembangkan berbasis lingkungan. Terlebih goa ini merupakan suatu kondisi lingkungan yang rawan akan kerusakan, baik oleh manusia maupun faktor alam yang tidak dapat diperbaharui lagi.
Dimana untuk satu ornamen saja pertumbuhannya hanya 0,5 milimeter (mm) /tahun. Bayangkan saja kalau 10 Centi meter (Cm), maka di butuhkan 200 tahun lamanya.
Ini merupakan keuntungan bagi pemerintah daerah, perintah desa, maupun swasta jika mau mengelola potensi itu dengan bijak. Tentunya untuk menambah APBD ataupun APBDes seperti di goa Ngerong  di Kecamatan Rengel. (Aim)