SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Masih rendahnya iklim investasi di wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, selama dua periode masa kepemimpinan Djoko Nugroho ternyata masih dipengaruhi letak geografis kabupaten setempat.
Sebagian besar calon investor yang hendak berinvestasi di Blora mengeluhkan jarak Blora yang relatif jauh dengan ibu kota provinsi maupun kota besar.
“Ini yang menjadi kendala kita selama ini,†kata Bupati Blora, Djoko Nugroho saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD Blora, jum’at (28/4/2017).
Dia mengungkapkan, Blora merupakan kabupaten dengan populasi ternak sapi terbesar di Jateng. Selain itu, Blora juga penghasil jagung terbesar kedua di Jateng setelah Kabupaten Grobogan. Namun hal itu belum menjadi magnet bagi investor menanamkan modalnya di Blora.
“Investor memilih membangun pabrik pengolahan jagung di Grobogan. Sedangkan pabrik yang terkait dengan peternakan malah dibangun di Bojonegoro. Investor mengeluhkan jarak Blora yang jauh,†katanya.
Menurutnya, faktor jarak itu terkait erat dengan kondisi jalan. Padahal, Pemkab Blora telah berupaya semaksimal mungkin memperbaiki kerusakan jalan yang di dukungan penuh Pemprov Jateng dan Pemerintah Pusat.
“Mudah-mudahan dengan kondisi ruas jalan yang sudah bagus terlebih lagi ruas jalan Rembang-Blora-Cepu telah berubah statusnya dari jalan Provinsi Jateng menjadi jalan nasional, investor akan berdatangan ke Blora,†harapnya. (ams)